9 Agustus 2010

TIME WILL TELL

 
“Kamu emang gak pernah mau mengerti perasaanku, dasar KKN keneh keneh nira, semua kamu atur sendiri, seolah aku ini budakmu, aku ini baru berstatus pacarmu bukan budakmu , bukan pula istrimu, untung pula aku belum jadi istrimu, OMG kalau jadi istrimu dipasung pulalah aku”. Terdengar suara caci maki penuh emosi dan aura negatif bersliweran di sana.

Perseteruan sengit tengah berlangsung di bilik sebelah ,bilik tamu, antara kakak dan calonnya. Aku menyebut lelaki itu calonnya. Kakak seorang pencinta kebebasan murni itu tak pernah sekalipun menganggap lelaki itu calon pendamping resmi masa depannya. Umur kakak tak bisa dibilang muda lagi, menginjak usia senja.Dia seorang pelukis , seorang seniwati ,artis sejati yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama kuas dan kanvasnya, yang tak pernah peduli dengan soal umurnya yang semakin larut dalam hitungan waktu. Seolah waktu dalam genggaman tangannya, atau dia tak menganggap waktu itu ada . Hm….



Permainan tangannya mencoretkan kuasnya itu lebih bermakna, lebih memukau hatinya dibandingkan laki2 manapun juga. Kakak bukanlah seorang wanita lembut yang cantik, namun dia seorang yang menarik, dengan rambut panjang lurus terurai, tubuhnya putih, langsing dan tinggi, dengan wawasan luas, enak diajak bicara, ide-ide segar seolah selalu mempunyai cadangan stock di otaknya, apalagi bila dia diberikan kebebasan penuh menghabiskan hari-harinya, ide-ide itu bagaikan jamur yang tumbuh dimana-mana, tak pernah habis, bermunculan begitu saja. Di sana sini. Mungkin saking banyaknya dia tak tahu bagaimana mewujudkannya. Hanya sebatas ide yang terus bermunculan, pada saat mood-nya bagus. Dia hanya bisa mencurahkan dan mengalirkannya ke dalam coretan2 kuasnya.Teman-temannya , termasuk aku adiknya ,sangat terkagum-kagum dengan ide2 cesplengnya, ya …..dia seorang perempuan berbakat yang lebih cocok menghabiskan waktunya sendirian sampai ajal menjemput. Bukan apa-apa, kasihan calonnya, demikianlah aku memanggil lelaki itu.
Dia seorang supplier cat minyak lukisan, telah mengenal kakak dua warsa ini. Kakakku yang eksentrik dan nyeleneh ini tidak pernah menjalin hubungan lama dengan para lelaki, sudah beberapa lelaki diputuskannya, dia menganggap para lelaki adalah makhluk aneh, seekor lebah yang mempergunakan kesempitan untuk memperoleh madu seorang perempuan lalu meludahkannya saat madu tersebut mulai terasa pahit dan mencari madu lain yang terasa lebih manis. Mungkin pula ini karena pengalaman hidup pernikahannya. Dulu dia pernah menikah untuk waktu yang begitu singkat, satu bulan saja berada bersama, lalu berpisah tak resmi sampai surat panggilan gugatan cerai datang 7 purnama berikutnya. Kakak iparku si “satu bulan ini saja” itu telah menemukan tambatan hati baru si “madu baru” ,demikianlah kakak menyebutnya. Menghindari masalah di kemudian hari, maka si satu bulan ini saja,mengajukan gugatan cerai. Hm…ironis, setahuku inilah perkawinan tersingkat di kotaku. Tapi dari awal ,sesungguhnya kakak memang tak pernah berkeinginan menikah, jiwa seninya yang begitu besar seperti seniman2 lainnya , menimbulkan jiwa nyeleneh yang sangat sulit dipahami manusia awam. Bagaimana tidak, segala sesuatunya tergantung mood. Bila si mood ini tak hadir pada waktu dan saat yang tepat, bisa dikatakan akan terjadi perang dunia babak ke sekian, ataupun menjadi monasteri setra yang sepi karena tak adanya percakapan, dan itu bukan hanya satu dua hari saja, tapi berhari-hari.

Bagiku yang telah berpuluh tahun tinggal bersama, ditambah dengan kedudukanku sebagai seorang adik, tentunya aku sangat mengerti kakak ini, sesungguhnya dia baik, sangat perhatian dan sayang keluarga. Walaupun dia tak pernah menunjukkannya, dia tak pintar menunjukkan hati pada keluarganya sendiri. Bila dia mendapat kesempatan pameran ke luar kota ataupun ke manca negara, tak pernah lupa membelikan kami sekeluarga oleh-oleh yang mahal dan menyenangkan masing2 , dia tahu persis apa yang kami inginkan. Bila aku ,adik satu2nya ini mendapat masalah, selalu saja dia memberikan jalan keluarnya. Dengan caranya yang unik. Kami tinggal berdua di kota ini, orang tua kami hidup di kampung sana. Ya ,sebenarnya dia sangat pengertian. Memang kesannya dingin. Aku sayang padanya sekaligus ada sesuatu emosi lain ,rasa hormat ,kagum sekaligus takut di sana. Namun jangan pernah menuntut ataupun berusaha mengaturnya, darah kebebasannya bisa menggelegak, membuat sekelilingnya akan berdesing seperti gasing bila berada di dekatnya. Lebih baik menjauh, menunggu sampai badai emosinya mereda, menunggu tsunami itu lewat, hingga keadaan berangsur normal kembali, seolah-olah tak terjadi sesuatu apapun. Seandainya calonnya sungguh mencintainya, pastinya dia bisa mengerti. Seandainya .

Dia seorang duda berputri semata wayang lebih membutuhkan perempuan yang mendampinginya dalam acara resmi keluarga dan sosial dibandingkan cinta. Dia sudah lama ditinggalkan istrinya yang tertambat pada lebah lainnya. Istrinya telah mendapat selingan yang indah dari rutinitas. Ya ….perselingkuhan selalu ada dimana-mana , saat cinta mulai memudar , bertemu lebah ataupun madu yang memikat, siapa kuat menahan gejolak ini ? kecuali bila ia masih setia dalam satu perjanjian komitmen bersama Penciptanya, tak ada lagi yang bisa membendungnya. Buah hatipun tak sanggup memberhentikannya. Bagi calonnya, mungkin sosok nyeleneh kakakku ini dulu begitu mempesonanya. Kakakku memang mempunyai kelebihan memukau lawannya, baik dalam bahasa tubuhnya, gerakan tangannya, kerling matanya saat berbicara, kedinginan emosinya ,dia seorang yang bukan saja ahli menuangkan ide dalam lukisannya, tapi dia juga seorang yang handal dalam menjatuhkan hati lebah-lebah yang berputaran di sekelilingnya. Dia memang unik, dia bak wanita tengah baya ,yang tahu persis kebutuhan emosi para lebah2 itu. Diantara sekian banyak lebah, calonnya inilah yang paling perhatian padanya. Dia mencoba menyambut uluran tangan calonnya, menggapai hari-harinya bersama calonnya, karena dianggapnya lebah yang satu ini sanggup mengecup dan menampung madu dirinya. Dia mulai menyukai calonnya ini.

Kelihatannya calonnya ini juga berusaha keras untuk mengerti kakak, namun dia bukanlah seorang seniman, mungkin dulu dia terpukau dengan sinar kakak, sekarang sinar itu makin hari terasa makin redup, dia butuh perempuan untuk diajaknya hidup bersama, mengasuh putri bersama , senang susah bersama. Dia berusaha mengatur jadwal kakak,memberitahunya bahwa putrinya telah lulus ujian dan minta dirayakan bersama, pada saat yang bersamaan ,entahlah… mungkin kakak sedang dalam keadaan mood yang labil, sehingga terjadi pertengkaran demi pertengkaran dan ini bukan hanya satu dua kali terjadi.

Pada saat calonnya kehilangan kendali, dia lari padaku dan menceritakan seluruh kegalauan dirinya, tanpa terasa suatu perasaan berbeda tumbuh di sana.Mungkin si empati telah berubah menjadi simpati. Simpatipun berubah menjadi C-I-N-T-A…..

Perubahan. Selalu terjadi dalam hidup ini.
Ya ….. hidup adalah perubahan. Perubahan adalah hidupku sekarang.

Tak terasa, perutku makin hari makin membesar. Mual telah berhasil kukalahkan. Semua berhasil kukelabui. Tapi membesarnya perut ini, seakan ada bola yang mendesak dari dalam. Perlahan namun makin membesar. Aku takut.aku malu. Ya… ,aib itu telah terjadi begitu saja. Malam jahanam itu lewat bagai angin lalu yang mampir sesaat . Lagi perseteruan yang membawa bencana terjadi . Kakak keluar rumah, untuk menenangkan dirinya.

Aku datang ke bilik itu, membawa teh manis hangat untuknya, kutak ingat lagi kapan dia menarik tanganku, menghujaniku dengan pagutan-pagutan ganas yang tak putus. Aku gadis belia, bau kencur, untuk pertama kalinya , maduku direnggut oleh lebah beranak satu ini. Aku menikmatinya. Aku terbang jauh ke dalam surga kenikmatan , neraka jahanam bagi kakak. Setan bersorak sorai meneriaki ,kami lupa diri. Pertemuan demi pertemuan , bagai kucing bersembunyi. Ada rasa bersalah di sana. Bertemu dengan kakak, serasa aku menjadi seekor kucing, punggungku melengkung menyembunyikan perutku. Bulu kudukku merinding, menjaga kebimbangan hati, kapan aku berani memberitahunya ? kapan? Ngeongggg….. ngeong…ingin kugesekkan tubuhku padanya agar si amarah tak pernah hadir di sana.

“Kak, aku ingin bicara,” tak sanggup lagi aku mengelak rasa bersalah ini. Dia menghentikan sapuan kuas pada lukisan abstrak itu. Tangan kiri yang memegang palet terpancang kaku seperti patung-patung tangan di desa kami, Petulu. Dia menatapku tanpa kata, matanya menyorot tajam penuh tanda tanya.

“Kak, mohon ampun Kak, maafkan aku Kak, aku hamil, sudah 4 bulan. Maafkan aku, Kak……”,suaraku bergetar ,wajahku bersimbah peluh bercampur airmata yang mengalir tak hentinya. Keringat dingin memenuhi pori-pori sekujur tubuhku. Takut, ya ….aku takut padanya, bagaimana caranya aku mengaku salah padanya? Akankah kukatakan bahwa calonnya lah bapak si janin bayi ini ? akankah ? bagaimana ini? Semua perasaan berkecamuk dalam diri. Terasa kedinginan malam itu menertawaiku.

Dia terdiam, hanya menatapku dengan sorot mata dingin. Tak sekalipun dia memandang perutku. Tak satupun kata keluar dari mulutnya. Dia membalikkan tubuhnya ke arah kanvas dan melanjutkan lukisannya,seolah tak terjadi apapun. Kakakku yang nyeleneh. Aku tak mengerti hatinya, apa yang sedang terjadi di hatinya, tidakkah dia bertanya siapa ayah bayi ini ? tidakkah dia ingin tahu lebih lanjut? aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Lari ke kamar , merasa menjadi seorang penjahat yang paling berdosa, apakah kakak sanggup mengampuni diriku? Bahkan dia belum tahu siapa yang menghamiliku. Benarkah dia belum tahu ? Ya ….calonnya itu tetap datang seperti biasa seolah tak terjadi sesuatu apapun. Dia hanya melirikku dan mencari kesempatan untuk melepaskan kerinduan itu.

Pagi telah tiba.
Bunyi kokok ayam terdengar nyaring, fajar telah menyingsing.
Aku menggeliat , mengerjapkan membuka mataku ,beranjak dari tempat tidurku, mulai menjerang air panas, kopi untuk kakakku dan teh hangat untukku. Kuambil roti sisa kemarin dan menggigitnya perlahan sambil melayangkan pandangan mata ke kamar kakakku. Sanggupkah aku meneruskan pengakuan itu pagi ini? Pintu kamar tak tertutup rapat, kutaruh rotiku dan beranjak menutupnya, kuintip, kenapa tak ada tubuh kakakku di sana ? Kubuka pintu kamar, kasur itu rapi seolah tak ada yang menidurinya. Mataku tertumbuk pada sehelai surat bergambar lebah-lebah kecil di meja riasnya. Perlahan kubuka dan kubaca,

Teruntuk :
Adikku sayang, maduku malang
Akhirnya “time will tell”, tibalah saatnya.
Aku menunggu saat pengakuan itu tiba.
Seperti yang kau ketahui , aku sayang padamu, walaupun aku tak tahu bagaimana aku harus menunjukkannya. Tapi aku yakin kau tahu aku menyayangimu. Ingin aku mengumpat dan menyalahkanmu atas apa yang telah terjadi, memaki dan menampar calonku itu, bahkan menyayatnya hingga dia menangis minta ampun. Tak mungkin kulakukan, aku kakakmu ini masih waras.

Aku benci keadan ini, namun apa dayaku, tak ada yang bisa kurubah.Aku menyayangimu.

Lebih dari yang kau tahu.

2 bulan yl aku sudah tahu, ketika kudapati kau muntah beberapa kali di halaman belakang, kau pikir aku tak tahu? Ya…. aku berusaha tak tahu, karena tak ingin menyakitimu. Aku kaget, seperti disambar petir rasanya, namun berusaha keras agar kau tak tahu hal ini. Selama 2 bulan ini aku berusaha sekuat tenaga, lahir batin melatih emosiku supaya tetap tegar,tabah dan kuat. Tahukah kau, ketika malam menjelang, nafasku sesak, jantungku berdebar kencang, rasa amarah begitu menguasai, hingga air mataku secara otomatis mengalir deras, menetralisir semua perasaanku. Serasa aku hidup dalam api neraka dunia. Berat hari-hari kulalui. Tapi mau apa lagi ? semua sudah terjadi, tak ada yang bisa kuperbuat, selain mendoakanmu , supaya kau tetap sehat dan tabah. Maafkan aku yang tak mendidikmu baik-baik, maafkan aku yang tak ada di sampingmu seperti dulu, ketika kau ada masalah. Maafkan aku. Biarkan aku pergi untuk menenangkan diriku, tetaplah tinggal di rumah ini sampai dia datang menjemputmu. Aku telah menulis surat khusus padanya.


Baik-baiklah jaga dirimu dan juga calon bayi ini, berikan makanan yang sehat dan bervitamin untuknya. Aku tak bisa di sampingmu menjagamu lagi, tapi aku yakin dia bisa menggantikanku menjagamu. Jagalah dirimu.


Janganlah merasa bersalah padaku, madu manisku sayang….


Dari:

Kakakmu ,si madu pahit yang terbuang.

Kupandangi kopi yang telah mendingin.
Hampa…….

Denpasar, 9 Juni 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar