9 Agustus 2010

Suatu Pojok di Negeri Ginseng

“Anyong haseyo…”
“Kamsa Hamnida, “suara ramah pramugari berparas ayu, mata sipitnya sungguh menawan ,menyapa ramah di pintu pesawat. Kuanggukkan kepalaku turut mengucapkan terimakasih.Hm….kuhirup perlahan udara segar di pintu keluar pelabuhan udara Incheon Seoul. Bau bawang putih yang terus menerus mengganggu penciuman selama penerbangan lenyap terbawa angin. Akhirnya kujejakkan kembali kakiku di negeri kimchi ini. Setelah 10 tahun menjelang. Negerinya Song Seung Heun, Choi Ji Woo aktor dan aktris Korea kesayanganku. Negeri produksi melodrama seri yang belakangan ini begitu terkenal, East of Eden. Instrumental lagu kebanggaan rakyat Korsel “Arirang”pun mengalun lembut ditelingaku. Betapa aku dulu jatuh cinta pada negeri ini. Juga pada wanitanya.Kenangan demi kenangan menyeruak.

Saat silam, aku dikirim perusahaan tempatku bekerja untuk belajar lebih lanjut seluk beluk mesin mobil. Bersama beberapa teknisi Indonesia lainnya mencoba menyelami juga budaya negeri ini, negeri ginseng , negeri kimchi . Sangat menarik mengetahui adat dan budaya negeri ini. Belum lagi bila para wanitanya mengenakan Hanbok, membuatku teringat boneka perempuan yang menari berputar lincah dengan Hanboknya.
Bau bawang putih memang erat dengan negeri ini, dimana-mana tercium bau ini, bau khas. Ya… sepertinya tak ada masakan Korea tanpa bawang putih. Hingga ekstrak penguat tubuhpun terbuat dari bawang putih. Betapa bawang putih sudah menguasai negeri ini. Kami menyebut gadis-gadisnya sebagai bawang putih tunggal, muda ,putih ,segar dan ceria. Pojok itu tiba-tiba saja begitu jelas tertera di ingatan, bagaikan episode tayangan yang sempat terpotong dalam film-film seri. Meja kayu oak ,suasana etnis yang ditimbulkan bar itu. Keremangan ruangan itu malah terasa begitu menyatu.Kursi coklat itu terasa begitu nyaman , penatku seakan tersedot habis , larut dalam keremangan pojok bar itu. My Way begitu nama bar di pojok jalan itu.Bar itu tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, sarat menuai suatu episode dalam perjalanan hidupku. Sesuai namanya , lagu My Way pun berulang kali lekat terdengar di telinga. Suara Frank Sinatra telah digantikan oleh suara penyanyi Korea yang tak kalah merdunya. Hm….
“ Lex…Alex…..hei..hei Lex, sini…..!!“panggilan itu menerbangkan, membuyarkan seluruh kenangan dan anganku. Darman sudah kelihatan batang hidungnya. Dia datang bersama istrinya, wanita Korea , Nam Mi ,bersama seorang anak perempuan yang lucu dan manis. Perpaduan Indonesia dan Korea. Han Bin namanya. Mengingatkanku akan seseorang, perpaduan wanita Pilipino dan lelaki Korea, Jasmin. Kulitnya putih, namun matanya yang bulat adalah mata penduduk Asia Tenggara. Mata itu ceria, sekaligus sendu. Mereka menjemputku di airport. Kami berpelukan. Sahabatku terlihat lebih gemuk dan subur dibanding 10 tahun yang lalu. Mungkin Nam Mi selalu memberikan makanan sehat dan juga ekstrak ginseng untuknya hingga badannya terlihat seperti bayi sehat. Wanita Korea memang terkenal begitu tekun merawat keluarganya. Kalau dulu wanita Jepang terkenal dengan kesetiaannya, kurasa sekarang ini wanita Korea lebih menunjukkan pamor sebagai pendorong semangat keluarga. Mungkin berkat bawang putih penambah semangat itu ? Mungkin.Kami ngobrol ngalor ngidul ,senang rasanya bertemu teman lama di negeri orang.
“Kangen makan apa Lex, …”begitu tanyanya.
Segera kusambar, “Wah ….tentu saja Bibimbab. “
“Ok , kalo gitu kita mampir dulu di restoran tempat saudara istriku ya….bibimbab nya terkenal loh…!”
“OK…..thanks brur…..!Kamsa hamnida,” kataku menoleh ke Nam Mi.
Lagi kenangan itu menyeruak. Di tempat yang berbeda, masakan yang sama. Dialah yang pertama kali mengenalkan dengan masakan khas Korea ini, mengaduk nasi hangat bersama daging cincang, wortel,mentimun, tauge panjang bumbu ko chi jang bercampur minyak wijen. Sup rumput laut instant turut menemani udara dingin saat itu. Jasmin. Nama itu sangat ngangeni. Jasmin…..hm…..Entah dimana dia sekarang. Masih akan sempatkah aku bertemu dengannya?Lamunanku terputus oleh celoteh ramah Darman sekeluarga. Segera akupun larut dalam suasana hangat keluarga ini.
“Bro, nanti malam jangan lupa ya, kita kumpul lagi di tempat lama, “ujarnya saat menurunkan diriku di Hotel LOTTE.
“Ok, jam 8 ya ……see you….., bye bye…..manis!”Han Bin melambaikan tangan kecilnya.
Suasana bar itu tak jauh beda dengan 10 tahun yang lalu. Interiornya sama, oh ….tapi di pojok meja ada tambahan rak botol wine, lainnya sama semua. Pojok itu, pojok kenangan. Pojok itu pojok kami, demikianlah dia menyebutnya .Mataku liar mencari-cari . “Anyong haseyo, “ suara Mama Kim terdengar nyaring di telingaku, diikuti beberapa staff cantik tersenyum ramah di belakang meja counter. Mama Kim tidak berubah. Masih cantik seperti dulu, hanya saja kerut-kerut di wajahnya telah bertambah seiring perjalanan usianya. Darman mengenalkan kembali diriku pada Mama Kim, dan Mama Kim tertawa riang memelukku,
”Selamat datang di My Way ,anak muda,”demikian sambutnya. “10 tahun tidak lama, saya masih ingat kamu.”
“Sudah bukan anak muda, Mama, “jawabku dengan bahasa Hangul terpatah-patah.
“Masih muda lah , jangan bilang tua. Kamu kata tua, lalu saya bagaimana ? hahahaha……” lalu percakapan riang mewarnai pertemuan dengan Mama Kim. Aku memesan soju, terasa arak kuat itu menguasai diri. Se botol telah cukup membuatku lumayan melayang. Lagu film Winter Sonata , My Love membuatku terasa limbung. Hm…tiba-tiba saja keingintahuanku begitu mendesak, dimana dia sekarang ? adakah dia di My Way atau dimanakah ?
“Mama, boleh aku bertanya ?”
“Tentu saja, ada apa anak muda ?“ masih saja dia memanggilku anak muda, seperti dulu. Matanya menatapku penuh tanya.
“Mama, masih ingat Jasmin? Saya tidak melihatnya. Dimana dia sekarang?Sehatkah dia ? Sudah menikah ? bagaimana keadaannya ? “pertanyaan bertubi-tubi kuajukan, tanpa melihat rona perubahan di wajah Mama. Ya Jasmin, seharusnya dialah yang menjadi ibu anak-anakku. Ternyata saat inipun, aku masih menyimpan sepotong hati , sepotong asa untuknya. Jasmin sesuai namanya, bak melati pujaanku. Aku sering menyanyikan lagu melati putih ,karangan Guruh SP untuknya. Dia sangat suka lagu itu. Ketika kami pergi piknik bersama, saat lelah, dia selalu memintaku untuk menyenandungkan lagu ini. Apalagi setelah kuceritakan padanya arti lirik lagu itu. Aku menyukainya. Mungkin juga aku mencintainya. Dia sangat memperhatikan keadaanku, kesehatanku. Walaupun dia lahir di Manila dan tumbuh besar di sana, karenanya dia bisa bicara bahasa Inggris, namun setelah kedatangannya di Seoul dia telah utuh menjadi layaknya seorang wanita Korea. Rambut indahnya selalu membayangiku saat istirahat di kantor ataupun di kamar. Dia kurus tinggi , bukan type perempuanku. Namun wajah sayu dan mata ceria sekaligus sendu sangat memikatku. Perlahan semua yang ada di dirinya begitu mempesonaku. Dia sangat menjaga kesuciannya. Aku menghormatinya. Ketika aku mempersiapkan kata lamaran untuknya, aku berterus terang pada Mama. Ya….. saat itu Mama terdiam. Tidak mengatakan sepatah katapun. Mama memang induk semang tempat Jasmin bekerja sebagai seorang wanita malam di bar itu. Kupikir dia tidak terlalu senang sehingga tidak memberikan responnya.
Dan ketika hari itu datang, Jasmin tak pernah muncul , demikian pula seterusnya. Jejaknya seolah terhapus oleh rencanaku. Begitu saja. Tanpa pesan, tanpa kata. Beberapa waktu , aku seperti hilang ingatan. Linglung. Tidak mengerti kenapa dia meninggalkanku. Tanpa jejak. Kehilangan pilarku, kekuatanku, semangatku. Semuanya. Hilang. Pupus. Bau melati itupun perlahan hilang secara menyakitkan. Tidak seorangpun tahu.
Dan…..10 tahun telah berlalu, ternyata malam ini aku mempertanyakannya. Mama memegang bahuku, menatap Darman seolah minta bantuan kekuatan. Darman hanya menarik nafas panjang sambil menuangkan sisa soju di gelasku.
“Anak muda, tidakkah kau sadar? Tidakkah kau tahu ? Jasmin sudah tidak ada lagi di dunia ini! “
Aku terhenyak kaget, terasa bumi kembali berputar. Walaupun dia tidak menjadi ibu anak-anakku, tapi dia dalam keadaan sehat di suatu tempat, begitu doaku. Ternyata.
“Sakit apa ?”
“Ketika kau bersiap mau melamarnya, aku telah lebih dulu memberitahunya dan dia bergegas pindah dari rumah sewanya dan pindah bekerja di tempat lain.Dia tidak sanggup menemui dirimu. Dia sangat mencintaimu. Sehingga dia harus melepasmu !”
“Mama, saya tidak mengerti. Bagaimana katakan dia cinta saya, tapi tinggalkan saya ?’
“Anak muda……..Jasmin tidak utuh sebagai seorang wanita. Dia adalah separuh wanita.”
“Apa ? Hah…….apa maksud Mama?”
Mama menepuk-nepuk bahuku.

“Jasmin dilahirkan dengan tubuh seorang pria yang mempunyai perasaan lebih halus daripada wanita.Seorang transeksual.Dia tidak berani membuka dirinya, karena dia mencintaimu dan dia tahu semakin hari ,kau semakin dalam mencintainya. Dia takut kau terluka. Dia tidak sanggup menahannya. Dia melakukan operasi di Manila dan siapa sangka dia terinfeksi dan meninggal. Tragis. Ironis.“

Bumi berputar semakin cepat. Nanar. Aku mencoba berdiri. Tak bertenaga. Kukepalkan tanganku namun samasekali tak ada sisa tenaga.

Di bar yang sama untuk ke 2 kalinya aku mengalami hal yang menyakitkan. Seolah aku tak mempercayai pendengaranku. Namun bisikan Darman menguatkanku, membuatku yakin, ini bukan mimpi. Inilah kenyataannya. Ya Tuhan, inikah jawabanMu atas doa-doaku untuknya? Jasmin-ku. Melati –ku.
Mama memberiku handuk dingin dan kuseka airmataku yang tak hendak henti mengalir. Melati- ku, jeritku dalam hati. Sakit. Nyeri.

Lagu My Love makin sayup di telinga.


Arti kata:
Anyong haseyo =apakabar, selamat pagi, siang, malam.
Kamsa Hamnida= terimakasih
Bibimbab= nasi berikut lauknya yang diletakkan dalam mangkok batu panas, makan dengan cara mengaduknya.
Kimchi = asinan/acar pedas Korea
Ko chi jang = bumbu masak kedelai korea
Soju = arak korea
Hanbok= baju tradisional Korea



Denpasar, 30 Juli 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar