12 Agustus 2010

Bahasa Cinta



http://chottomatte.net/blog/2009/11/15/minoo-waterfall-1/


Momiji hijau itu telah berubah warna, musim gugur. Kouyou di Mino, perubahan warna daun momiji itu begitu menyentuh relung-relung kalbu, tak terkatakan dengan kata-kata , tak habis melukiskan keindahan itu dalam satu olesan gambar, warna warni alami, hijau ke kuning, kuning ke oranye, oranye ke merah, dari merah ke merah membara, achhh….. sungguh tak habis dalam kiasan kata. Nuansa alam yang hanya bisa dinikmati di negeri sakura ini. Hm…
Perempuan itu menghirup nafas dalam-dalam dan melepasnya perlahan, menatap keindahan koyo di depannya dengan raut wajah penuh syukur. Aku duduk di sampingnya , menatap kouyou di depanku sambil sesekali menoleh kepadanya dan tersenyum.

Sachiko ,biasanya kupanggil Sa-chan adalah salah seorang mantan murid bahasa Indonesia, di sekolah tempatku mengajar di Osaka. Dia adalah salah seorang muridku yang sangat berbakat, santun tutur katanya,ramah dan cantik. Aku sangat menyayanginya. Kepribadiannya tak ada cela di mataku.Matanya sipit melengkung agak naik, namun sorot mata lembut itu sungguh menarik. Badannya yang kutilang, kurus tinggi dan langsing, seolah melambai ringan bila berjalan, mungkin berkat latihan balet yang terus menerus sedari kecil hingga tubuhnya begitu lentur dan indah.


Aku menemaninya datang ke Mino ,yang katanya untuk menikmati kouyou, tapi aku tahu , pasti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sempat kulihat kegalauan di wajahnya, walaupun senyum sumringah itu tak lepas dari lekukan bibirnya.

Kueratkan selendang yang membalut leherku, matahari bersinar cerah,namun setiap kali angin berhembus, terasa dingin menggigit, pengunjung taman air terjun Mino ini sangat menikmati keindahan kouyou sambil makan ikan ayu & amago yang dibakar di depan mata.Banyak penjual bergelimang rejeki pada saat musim kouyou, dibandingkan musim-musim lainnya, ada yang menjual jagung bakar mentega, ada juga kentang yang matang dalam onggokan bara, cumi bakar, yakisoba ,oden dan makanan lain penghangat tubuh, tapi ada juga yang menjual ice cream, justru dalam keadaan dingin, sensasi nikmatnya ice cream terasa berbeda.Kuambil 2 jagung bakar ,membayarnya dan kuberikan 1 untuknya, “Terimakasih Sensei,” katanya dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Murid-muridku selalu memanggilku “SENSEI”, walaupun sudah kukatakan untuk memanggil namaku saja, namun demikianlah kebiasaan adat di negeri ini, yang sangat santun memperhatikan tingkat derajat orang lain,ya …… Jepang memang salah satu negara yang sangat sopan dalam bertatakrama, sebab kehidupan sosial mengharuskan mereka seperti itu, bila tidak, mereka akan dianggap orang tak tahu adat/etika dan tidak seorangpun bisa menerima keberadaannya sekaligus melecehkannya. Mereka punya banyak standar etika yang di negara lain tak mengenalnya.Sungguh tak heran, bila orang asing walaupun sesama Asia yang sama2 asli berambut hitampun akan bingung mengikuti adat budaya Jepang. Namun bagiku sendiri, ini merupakan suatu daya tarik magnit tersendiri, aku merasa nyaman dalam kehidupan sosial yang serba teratur. Bentuk tatanan hidup yang serba pasti dan nyata, misalnya janji bertemu jam 12 , bisa dipastikan secara umum, mereka akan datang jam 11.50 sudah di tempat, selama tidak ada gangguan alam atau hil yang mustahal. Walaupun kehidupan terasa agak hambar, karena segala sesuatu ada aturannya, aku senang tinggal di negara ini.

Kembali kami duduk bersama di pinggir telaga Mino, banyak juga pasangan muda , para keluarga,juga para lansia dengan tongkat saktinya lalu lalang di sini. Muka-muka yang cerah, terasa ion-ion negatif dari air terjun mengalir merasuki jiwa dan wajah, energi positif pasti akan mengalir dengan leluasa, indahnya alam Mino ini.

Sambil mengunyah jagungnya, Sa-chan mulai membuka percakapan, curahan kegalauan hatinya. Sebulan sudah, dia berada di tanah kelahirannya dan besok lusa, dia sudah harus kembali ke Bali, ke pulau dewata ,pulang ke rumah suaminya ,Wayan. Ya….3 tahun yl, dia juga berkeluh kesah akan kisah cintanya,saat dia harus ambil keputusan untuk menikahi Wayan, seorang pemuda Bali,atau tidak. Dia bertemu Wayan di pantai Kuta saat dia berlibur di Bali. Wayan seorang pemuda Bali yang bekerja sebagai pramuwisata, berbeda dengan teman2nya yang disebut cowboy pantai, maka Wayan adalah sosok yang sederhana, lembut dan jauh dari kesan urakan. Perhatian Wayan begitu besar padanya, hingga pertemuan demi pertemuan itu selalu dinantikannya, ya…. dia telah jatuh cinta ,entahlah ….mengapa dia jatuh cinta pada Wayan? Tak ada rumusan yang tepat menggambarkannya, Wayan bukanlah sosok lelaki yang didambakannya, tapi Wayan punya kelembutan itu, yang jelas dia merasa sangat sayang, simpati pada kehidupan Wayan. Wayan pernah menikah, namun istrinya telah kembali ke pangkuan Ida Sang Hyang Widi karena kecelakaan motor, meninggalkan seorang anak perempuan yang tunarungu. Sekarang anak itu dirawat Meme, ibu Wayan. Kisah cintanya bersama Wayan tidaklah berbelit2, hanya saja ketika Wayan melamarnya secara sangat sederhana , tanpa lilin tanpa dinner seperti yang pernah diangankannya saat kecil, saat dirinya ABG bermimpi tentang seorang pangeran naik kuda putih berlutut dan memintanya jadi mempelainya. Kenyataan berbeda, Wayan melamar tanpa ada kesan romantis sedikitpun, itupun di pantai tempat mereka bertemu, namun dia tidak keberatan, tapi dia tak dapat segera menjawabnya. Dia hanya senang,terharu, namun terpaku diam tak menjawab, dia butuh waktu. Meninggalkan Wayan dalam kancah pertandingan tanpa lawan, deg-degan.

Dia suka datang ke Bali, dia suka,bahkan terasa makin cinta Wayan, dia suka makanan Bali, dia bisa makan lawar pedas bumbu Bali, dia sudah kenal keluarga Wayan juga anaknya Santi yang tunarungu, dirasanya tak ada masalah dengan keberadaannya, dia juga bisa menari pendet, tenun, oleg, dia sudah bisa buat sedikit canang Bali, ya…dia menyukai segala sesuatunya di Bali. Juga matahari Bali yang dirasanya beda dengan matahari Jepang, entahlah …..matahari Bali terasa bersahabat baginya, tidak seperti matahari Osaka yang selalu malu2, bersembunyi dalam mendung akibat polusi pabrik.Tapi tinggal di Bali sebagai istri Wayan, pastinya juga merawat anak Wayan ,ach….sanggupkah dia ? logika dan emosi terasa mempermainkannya, mengayunnya dalam celah bimbang keraguan tak pasti, membuat hari-harinya terasa galau, rindu yang membuncah menyatu dengan pertimbangan demi pertimbangan satu persatu diangkat dalam daftar acuannya, terutama sepulang liburan dari Bali, dia kembali ke Jepang , dia rasakan dia sungguh cinta tanah kelahirannya ini, dan pisah dari tanah kelahirannya ini, mmhhh….lalu belum lagi , otochan & okachan nya yang belum tentu merelakannya pergi ke Bali sebagai oyome-san , do shiyo kana….bagaimana ini ?

Ketika dia bingung memutuskan itulah, dia datang padaku. Hanya satu pesanku, bagaimanapun juga dia tetap harus memilih, bukankah hidup ini adalah memilih, dari pagi hingga malam kita selalu memilih dan semua itu beresiko. Apapun itu selalu ada resikonya, tinggal dialah yang harus mempertimbangkannya sekarang , mana yang lebih berat. Dan akhirnya, dia memilih Wayan, merasa walaupun adat budaya berbeda, namun bahasa cintanya sama. Itulah yang dikatakannya padaku saat itu. Aku terperangah kagum. Aku lahir dan besar di Bali dan tahu persis keadaan menjadi menantu dari anak pertama, tidaklah mudah. Bukannya tidak bisa, tapi perlu banyak pengorbanan waktu dan lain2nya. Budaya yang sangat berbeda. Kehidupan Jepang yang begitu canggih dan serba tepat waktu, kehidupan umum di Bali yang begitu santai, nilai2 budaya yang berbeda, sanggupkah Sa-chan-ku???

Ketika pernikahan adat Bali dilaksanakan, akupun sempat hadir bersama otochan dan okachan-nya yang turut menangis haru melihat anaknya dalam balutan pawiwahan Bali, tak ada kata yang keluar, aku bisa merasakan campur aduk dalam perasaan mereka. Bahagia, sedih karena harus berpisah ,khawatir karena putri kesayangan ada jauh di seberang negaranya, ya… aku bisa merasakannya, namun inilah jalan yang dipilih Sa-chan. Bahasa cinta. Adat budaya boleh berbeda namun bahasa cintanya bersama Wayan hanya satu saja. Indah sekali. Aku turut berbahagia melihatnya.


Sekarang perempuan yang kulihat 3 tahun yang lalu duduk di sampingku dan mulai menceritakan perjalanan hidupnya selama ini, ya …..kami sempat tidak berhubungan cukup lama, karena kesibukan masing-masing. Saat dia mencariku di sekolah, kami bisa bertemu lagi. Senang melihatnya kembali, namun terlihat dia lebih kurus. Mukanya tirus , pipinya tidak segar, hanya sorot mata lembutnya masih saja di sana, juga lekukan senyum sumringahnya masih ada di sana. Bahasa cinta. Dialah yang mengajarkanku akan arti bahasa cinta. Sachiko.

Waktu demi waktu berlalu, perbedaan demi perbedaan terasa melayangkannya ke titik lelah, pagi buta, dia sudah harus bangun ,menyiapkan makanan untuk ternak dan juga sarapan untuk keluarga besar, Aji,Meme,Santi dan Adi lalu menjahit banten sejak jam 5.00, menghaturkannya ke hadapan dewa dewi, pergi ke banjar mengurus pelayanan/pengayahannya di sana dan segala sesuatu berhubungan dengan adat, karena bahasa Indonesianya dianggap bagus, dia telah diangkat sebagai wakil keluarga ke banjar, namapun diberikan, Ni Luh Putu Sachan. Setahun telah berlalu, dia masih bertahan, 2 tahun dia mulai bertanya-tanya, logika mulai perlahan menghapus bahasa cintanya, dia mempertanyakan dirinya, dia menempuh sekolahnya tidak mudah selama sekian tahun ,ujian demi ujian dilaluinya dengan susah payah, haruskah berakhir dengan pernikahan seperti sekarang ini, dia mulai kelelahan dengan perbedaan budaya. Perdebatan tak langsung mulai terlihat, bukannya Wayan tak sadar hal itu, namun dia juga tak sanggup berkata berbuat apa2, inilah adat dan budaya Bali. Nak mule keto.Dia hanya bisa memijat lembut saat istrinya mulai mengomel. Dia tahu persis Sachan masih cinta dia, hanya kelelahan dengan perbedaan drastis itu. Mertua perempuan yang dipanggilnya Meme juga tak mau mengerti, sakleg, yang diketahuinya hanya, mantunya ini sudah masuk dan menjadi bagian keluarganya, maka dialah bertugas meneruskan dan menjalankan adat keluarga dan sosial di masyarakatnya. Dilema keluarga.Dan tidak mudah menjalankan adat Bali ,nak mule keto, tak perlu dipertanyakan, jalani saja.

Dan untuk menyelesaikan masalahnya itulah, Sachan kembali ke Jepang sebulan yl, setelah memperoleh ijin suaminya. Dia kembali ke kehidupan yang dirasanya nyaman. Batinnya memberontak. Pernikahan baru 3 warsa berlalu, dia merasa merdeka , terlepas dari tugas-tugas yang terasa berat menghantuinya. Otochan okachannya angkat tangan memberikan kebebasan penuh pada putrinya, karena mereka berpendapat inilah resikonya, bukankah Sachan sudah diberitahu sebelum mengambil keputusan menikah. Semua ada di tangan Sachan, Otochan Okachan hanya mendukung keputusan Sachan.Lusa adalah hari H nya, apakah dia kembali ke Bali ? Dia galau, airmata merebak tergenang tinggal menunggu desakan hatinya. ”Sensei…,” hanya itu yang dikatakan, airmatapun mengalir tak terbendung dan kupegang tangannya erat-erat, udara dingin terasa makin menusuk.

” Sachan,masih ingat dengan bahasa cinta ? Bukankah Sachan yang ajari Sensei arti kata bahasa cinta, hanya satu, Nah… menurut Sensei, memang satu arti tapi sangat dalam, tidak hanya suka sama suka, cinta sama cinta, tapi lebih dari itu, bahasa cinta adalah bahasa hidup pengorbanan, hidup penuh kasih dan keikhlasan berbagi, bukanlah "take and give " tapi give & give, dan kalau bisa give tanpa take lagi, karena arti hidup sesungguhnya adalah bahasa cinta yang universal. KASIH yaitu berikan berikan dan berikan, tanpa pamrih. Memang kehidupan di Jepang serba digital dan selalu prinsipnya GIVE & TAKE, tidak ada yang gratis kecuali menghirup udara segar, minum air di taman, hadiah tissue di pusat perbelanjaan, dan pergi ke WC umum. Tapi lainnya, semua selalu ada nilai digital(=angka/uang),kita membayar untuk sesuatu. Kita melakukan sesuatu untuk dibayar. Paling tidak dikembalikan dalam wujud barang berbeda. Namun tidak demikian halnya di Bali, yang kehidupan masyarakatnya adalah gotong royong.Demikian pula dalam keluarga. Berikan yang kamu miliki, tanpa meminta atau mengharapkannya kembali. Itu akan jauh terasa lebih ringan. Suatu saat, bila Tuhan YME berkenan ada saatNya, semua akan kembali bahkan berlebih, tapi jangan bertanya kapan, kita tidak pernah tahu. Itu misteriNya. “

Terasa tangan Sachan memegangku erat, menatapku dengan mata lembutnya yang berbinar, “Arigatou Sensei, bahasa cinta sensei lebih besar dari bahasa cinta Sachan , Sachan sudah tahu apa yang harus Sachan lakukan. Arigatou, terimakasih Sensei.” Dan ternyata lekukan senyum hati yang sumringah itu, sanggup menghapus seluruh mendung di wajahnya. Syukurlah.....hatiku beroda untuknya, berikan Sachan pengertian bahasa cinta lebih dalam Tuhan, berikan dia kekuatan dan ketabahan untuk bisa menjalani pilihan hidup bersama orang yang dicintainya, amen.



Denpasar, 6 Juni 2010
suatu kenangan lama di Mino,
dalam suatu perjalanan hidup di Osaka.

--------------------------------------
Mino= obyek pariwisata air terjun yang terkenal dengan kouyou (dikelilingi oleh bukit yang penuh dengan pohon maple Jepang, daunnya kecil2)
Kouyou=perubahan warna daun maple jepang yang sangat drastis , beragam warnanya(hanya ada di musim gugur)
Ikan Ayu=jenis ikan di sungai Jepang
Ikan Amago=jenis ikan tawar yang hanya bisa hidup di air sungai yang jernih
Chan=panggilan kesayangan untuk anak perempuan.
Kung=panggilan kesayangan untuk anak laki2
Yakisoba=mie goreng ala Jepang
Oden=rebusan bumbu jepang dengan daging sapi(urat,kikil) lobak,kentang, dll
Sensei=guru ,baik guru pria maupun wanita
Oyome san= menantu/mempelai wanita
Dou shiyo kana= bagaimana ini
otochan=ayah(standard:Otoosan)
okachan=ibu (standard: Okaasan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar