Kuberusaha sekuat hati menahan deraian airmata yang hendak menyeruak di sudut
mata.T-E-R-H-A-R-U. Wajahnya berseri-seri. Dibukanya genggaman tangannya, di
sana ada setumpukan melati putih, Mukanya sumringah bagai anak kecil pulang
sekolah membawakan hadiah kesukaan untuk Bunda tersayangnya. Kubuka tanganku
menerimanya, mencium aroma melati suci. Dia berusaha menyenangkanku, dia sungguh
berusaha, aku tahu, aku mengerti. Aku sangat menyukai bunga putih ini, kecil
namun harumnya membuat kedamaian dan kenyamanan hati. Tidak mudah memperolehnya
di tanah kering ini, entah dimana dia memperolehnya. Rasa lelah menggayut diri
tiba-tiba saja sirna begitu saja. Sesaat terpesona . Sesaat ada rasa ingin
berlabuh sesaat dalam pelukannya. Mungkin aku mulai jatuh cinta?
mata.T-E-R-H-A-R-U. Wajahnya berseri-seri. Dibukanya genggaman tangannya, di
sana ada setumpukan melati putih, Mukanya sumringah bagai anak kecil pulang
sekolah membawakan hadiah kesukaan untuk Bunda tersayangnya. Kubuka tanganku
menerimanya, mencium aroma melati suci. Dia berusaha menyenangkanku, dia sungguh
berusaha, aku tahu, aku mengerti. Aku sangat menyukai bunga putih ini, kecil
namun harumnya membuat kedamaian dan kenyamanan hati. Tidak mudah memperolehnya
di tanah kering ini, entah dimana dia memperolehnya. Rasa lelah menggayut diri
tiba-tiba saja sirna begitu saja. Sesaat terpesona . Sesaat ada rasa ingin
berlabuh sesaat dalam pelukannya. Mungkin aku mulai jatuh cinta?
Tapi ………
Beberapa purnama telah berlalu, aku sadar sesadar-sadarnya mulai tergantung
padanya. Ada rasa aman dan damai diri di sana, rasa terimakasih dan simpati
mendalam karena telah membantu menyelesaikan masalah hidupku. Mendengar kisah
hidupnya , penuh perjuangan dan derita, kadang kumelamun bertanya adakah orang
lahir untuk menderita ? rasanya tidak, setiap orang hidup seharusnya wajib
bahagia, kesempatan untuk berbahagia seharusnya diraih. Hm………..empatiku berubah
menjadi simpati dan selanjutnya sangat alami bila keadaan berkembang menjadi
suatu cerita cinta.
Persoalan ekonomi di dunia nyata ini selalu bisa memainkan peranan hidup ke arah
negatif. Kenyataan kehidupan yang pahit, membuatnya terpisah dari Ibunda
tercinta, tinggal bersama orang lain yang dipanggilnya paman. Ada rasa terbuang,
karena dia yang dipilih dari sekian banyak saudara untuk diberikan ke paman.
Terpisah sanak saudara membiarkan kesepian mengakrabi dirinya. Hidup bersama
paman itu tak jauh berbeda , hanya saja paman hanya memiliki dirinya seorang,
tidak perlu hingar bingar berebut makanan dengan saudara lainnya. Namun kesepian
dan hati terbuang seringkali hadir dalam mimpinya. Dalam pertumbuhan mencari
jatidiri, merasa hidup kesepian tanpa arti, hingga terperosok ke jahanam si obat
terlarang , membuatnya putus asa . Sungguh lelah, bertanya pada Sang Khalik, apa
gunanya dia lahir di dunia ini? Merasa diri tak kuat menanggung beban.
Syukurlah, paman masih menyayanginya dan berusaha keras menjadikannya seseorang
yang lebih baik, seorang yang mandiri dan tidak berputus asa menghadapi
kenyataan hidup ini.
Dia mulai bisa menata kehidupannya kembali , dia mulai terbiasa menerima
kenyataan hidup seadanya, bekerja dan hidup normal seperti orang lain. Baginya
sudah cukup bagus. Namun permainan nasib seolah tak henti menghempas dirinya.
Bencana satu persatu menerpa dirinya. Menghampiri dirinya tanpa keraguan. Lagi
dan lagi. Ada apa ini ? Apa yang salah dengan kelahirannya? Takdirnya? Nasibnya?
Selain dirinya, adakah orang lain mengalami nhal seperti dirinya? Dia bertanya
dan bertanya, namun hanya angin bertiup sepoi-sepoi menyirnakan jawabannya.
Akhirnya ketika si “tambatan hati” muncul dan menjadikan dermaga perahu diri
yang sudah terlalu berat dengan muatan derita , cahaya kehidupan mulai bersinar
sedikit demi sedikit bebanpun mulai terangkat ringan. Kehidupan bahagia
terbentang dalam proses pencarian jati diri. Buah cinta pun hadir di tengah
kebahagiaan itu.
Namun………
Tak lama badai menghempaskan perahu kehidupannya kembali. Belahan jiwa si
tambatan hati meninggalkannya begitu saja, pergi bersama lelaki lain. Begitu
saja tanpa pesan. Dia melihatnya beberapa kali bersama lelaki itu, namun tak ada
kecurigaan terbersit di benaknya. Dia percaya penuh pada si belahan jiwa. Dia
sungguh mencintai ibu buah hatinya ini. Perselingkuhan itu melenyapkan semua
rasa indah yang ada, cinta lama itu telah kandas, tak hendak berlabuh lagi. Apa
yang salah pada dirinya, dia tak hendak lagi menghakimi dirinya yang dirasanya
sudah cukup berusaha membahagiakan anak istrinya. Sakittttttt, perasaan dendam
merasuk dan menggayuti dirinya sedemikian rupa, syukurlah dia masih waras untuk
membesarkan buah hatinya dengan baik. Walaupun berat. Dia merasa tak berdaya,
tapi kehidupan pahit ini harus dijalaninya. Mau tidak mau. Suka tidak suka.
Namun ya…badai memang terlihat begitu menyukai dirinya, kembali menerbangkan dan
menghempaskan dirinya. Usaha yang tengah dirintisnya tidak terlalu lancar.
Kekesalan diri dan depresi menghancurkan kesadarannya ,hingga muncul
kecerobohannya , dan api rokokpun menjalar menghabiskan semua usahanya . Tak
bersisa.
Hampa. Terasa kosong.
Dia duduk terpekur diam, merasa sudah sampai di ambang batas kesadaran, di ujung
kegilaan. Tiba-tiba saja dia sudah ada di pekuburan itu, duduk di bawah kamboja
yang menaungi kuburan itu, hingga ayam berkokok menyambut pagi . Sudah gilakah
dirinya ? Tak waras? Mungkin saja. Dia gontai melangkah pergi, menuju ke arah
pantai lalu merendam tubuhnya tanpa disadarinya. Bisikan demi bisikan terdengar
menyertainya kemanapun dia melangkah, dia merasa hampir gila. Ya….. gila……!!!!
Lelah!!!!!
Dia sungguh lelah, rasanya tak tahu lagi apa yang harus diperbuat, ketika si
buah hati tidur, dia membelai kepalanya dan airmatanya turun tak tertahankan.
Ingin sekali bersandar, namun bukan pada dunia yang sudah terlalu menyakitkan
ini.
Botol obat itu telah pecah berserakan di lantai, pil-pil itu setengah
berhamburan di sana sini, separuhnya telah menghuni perutnya. Kesadaran terasa
mulai timbul tenggelam. Dia diam dalam hening. Kesenyapan yang menakutkan.
Digapainya bantal untuk menekan hidungnya, namun tak ada tenaga tersisa.
"Maafkan aku Tuhan, kutak sanggup memikul beban yang Kau sediakan untukku, kutak
cukup kuat lagi". Gelap……….
Matanya nanar menatap matahari pagi yang menerobos masuk melalui kisi-kisi
jendela kamarnya. Dia melenguh dan mendapati dirinya masih dalam keadaan sadar.
Terseok lunglai dia berdiri. Die hard seperti film yang ditontonnya beberapa
waktu yang lalu, ternyata dia masih eksis di dunia nyata ini. Tugas apa lagi
yang menanti dirinya? Tak hentinya dia bergumam, bertanya dan bertanya pada
dirinya sendiri.
Kesadaran bahwa memang bila memang belum waktuNya, apapun yang dilakukan tidak
akan mengubah nasibnya. Dia harus merubah cara berpikiranya. Baiklah Tuhan,
saya siap menerima apapun yang Kau inginkan, yang Kau rencanakan untukku. Saya
SIAP melaksanakan.
Sewindu berlalu. Bukanlah waktu yang pendek. Dia berjuang menatap masa depan,
menapak kehidupannya. Dia telah berjanji tak ‘kan kalah oleh nasib yang dianggap
buruk, dia harus menang sampai akhir hayatnya. Mungkin ini adalah karma dalam
kehidupan sekarang ini. Tapi dia telah siap. Menunggu datangnya badai, menerima
semua kemungkinan yang akan terjadi, seperti air mengalir. Tak ada lagi
pertentangan, namun hanya pasrah dan berusaha menerima semuanya. Baik atau
buruk. Dia percaya mendung tidak selamanya kelabu, bukankan pinggiran mendung
berwarna keperakan juga menyertai hidupnya. Dia hanya harus tegar.
Ketika pagi menjelang kesibukan telah menantinya. Dia larut dalam kerja,
walaupun ketika senja beranjak dalam kesepian malam, terasa waktu berjalan lebih
panjang dan lama. Tak dipungkirinya dia berharap ada yang membukakan hati untuk
mengisi kekosongan hatinya. Dan rupanya permainan nasib telah menunjukkanku , si
Dian untuk menjadi D-I-A-N dalam kegelapan hatinya. Menurutnya , kehadiranku
bagai embun meneteskan perlahan di hatinya yang lelah. Tetesan itu terasa nikmat
dan hangat, sekaligus menyejukkan, sesuai namaku Dian, tak pernah padam
sekaligus menghangatkannya. Itu selalu diucapkannya , membuat hatiku
berbunga-bunga. Sesungguhnya , aku merasa takut jatuh cinta padanya, aku juga
punya cerita tak kalah pahit dengan dirinya, kisah perjalananku bukan indah
seperti namaku Dian Indahnia. Hm…. aku justru merasa dingin tak suka menyandang
nama itu. Hatiku sudah beku seiring perjalanan cintaku. Banyak hal menyakitakan
terjadi. Dian itu telah padam, sesungguhnya hanya empati yang berubah menjadi
simpati mendengar cerita hidupnya. Ada rasa iba, kasihan menguasai diri, karena
dia mempunyai si kembar buah hati yang hidup bersamanya, tak terbayangkan
seandainya hal itu terjadi pada diriku, adakah aku sanggup bertahan seperti
dirinya ? hm…..
Ada rasa ingin muncul sebagai pahlawan atau dewi? Yang menolong si kodok
terperangkap saat ingin jadi pangeran untuk hidup lebih baik. Pahlawan kesiangan
mungkin, karena perasaan iba berkuasa. Hatiku mendua, ada rasa ingin
merengkuhnya saat berkeluh kesah, ada rasa bertahan tak ingin goyah dengan
masalah cinta lagi. Takut untuk mebuka hatiku sendiri, takut memulai, takut
mencoba, tepatnya jera mencoba lagi, perjalanan di depan mata terasa begitu
terjal dan sulit bila bersamanya.
Bimbang dan ragu. Namun ketika empati itu berubah jadi simpati, sesuatu perasaan
lain bermain di dalam pikiran menuju perasaan terdalam , dian yang padam itu
mulai bersinar. Diam-diam perlahan ternyata aku mulai menyukainya. Perhatiannya
dan ketegarannya telah menarikku dalam rengkuhan pelukannya yang hangat.
Hari-hari terasa penuh madu. Manis. Indah Tapi ada kegalauan di sana. Ada rasa
bingung juga dengan berjalannya waktu.
Buah hatinya masih sangat membutuhkan kehadiran sosok seorang Bunda. Aku seorang
wanita karier. Sosok itu tak ada padaku, dia tidak peduli, dia hanya ingin aku
menemaninya selama masa hidupnya. Aku juga, ada rasa ketergantungan dengan
kehadirannya dalam hidupku yang hambar itu. Tapi………
Surat itu terbuka di depanku. Dia memang selalu menugaskanku untuk membuka
surat-surat yang masuk untuknya. Dari tambatan hati lamanya.
Isinya menyatakan penyesalan diri dan penuh kerinduan pada buah hati yang telah
lama ditinggalkan. Ingin bertemu menyatakan secara langsung ingin kembali
mengayuh kehidupan dalam perahu yang sama , menuai bersama masa depan bersama
buah hati. Demikian tertulis gamblang di kertas berwarna merah muda lembut itu.
Aku terhenyak, tanganku berubah jadi dingin. Kuminum air di gelas di mejaku.
Tanganku dingin. Kepalaku terasa berat. Inikah saat penentuan itu ?
Bingung sesaat, haruskah kuserahkan surat ini ?Perasaan galau menerpa dan
menguasaiku. Hening.
Dia beranjak, pergi meninggalkanku terpekur dalam kebisuan malam. Sosok tubuh
itu semakin jauh meninggalkanku. Ada rasa perih. NYERI.
Bayangan kenangan itu mulai merasuk diri. Ketika itu, dia pulang ke pulau
asalnya, menengok Bunda-nya, menyapa saudara dan bersilahturahmi dengan
tetangga-tetangganya, setelah sekian tahun meninggalkan kampung halamannya. Di
sanalah kami bertemu kembali setelah sekian lama tak bertemu. Saat kukecil,
berambut panjang dikepang dua dengan boneka si Bong2 yang gendut adalah tetangga
sebelah rumahnya dulu. Dia suka menarik rambutku, menarik rambut bonekaku saat
itu, menarik pita dan kancing baju Bong2 hingga putus. Aku akan marah hingga
menangis. Dia akan lari sambil mengejek setelah aku ngambek dan mulai menangis
bombai. Lokan-lokan yang kukumpulkan dengan susah payah akan diterjangnya dengan
kaki dekilnya, seolah tanpa bersalah dia akan melenggang seenaknya. Membuatku
sungguh erosi jiwa saat itu. Aku marah dan mengejarnya. Mungkin dia suka melihat
reaksiku saat itu, dan menjadi kenangan kecil yang indah baginya.
Hampir setengah abad berlalu, salah satu kisah anak manusia di dunia ini yang
telah mengalami suka duka kehidupan menjadikan masing-masing pribadi yang dewasa
dan lebih banyak mempertimbangkan kepentingan semua di atas kepentingan pribadi.
Ketika perjalanan waktu itu menyambung kembali pertemuan ini, gelombang magnet
menyeret kenangan masa kecil dan menyatukannya kembali, bagai puzzle2
ditempatkan di asalnya. Bukan hal aneh , bila satu sama lain saling membutuhkan.
Namun semua ada waktuNya. Ketika surat itu datang, naluri dan tanggung jawab
seoarang ayah tentunya lebih berperan daripada cinta hanya diantara mereka.
Cinta pada tambatan hati yang pernah padam bisa dinyalakan kembali sesuai
kepentingan, bukankah si kembar buah hati lebih penting dari lain-lainnya.
Melupakan pengkhianatan itu tidak mudah, tapi pintu maaf seiring waktu pastinya
tersedia. Kehadiran Bunda kandungnya tentulah hadiah luarbiasa yang lama
ditunggu-tunggunya. Aku mengerti, walaupun ketika surat itu dibacanya, tanpa ada
perubahan pada wajahnya. Aku sungguh mengerti. Masing-masing tak berdaya.
Pasrah.
Aku , Dian telah bersiap diri. Walaupun sakit…..
Ketika dian itu sekalinya dinyalakan akan meletup-letup , memancar keluar tak
henti, tetap ada waktunya dian itu padam sendiri. Biarkan semua itu berlalu.
Dian itu akan mengisi relung hati masing-masing dengan kenangan indah yang telah
selesai dirajut. Api dian itu memerlukan waktu untuk kembali padam. Biarkanlah
airmata mengalir untuk memadamkannya.
Dia merengkuhku dan memelukku kuat, selain ‘”maafkan aku” , lainnya tak ada
satupun kata diucapkan .Hanya matanya yang berbicara, airmata mengalir tanpa
bisa kubendung. Dia harus kembali pada posisinya dalam keluarga. Membuat si
kembar buah hatinya bahagia adalah tanggung jawabnya, bukan masalah pilihan
lagi. Apa yang terjadi diantara diriku dan dirinya adalah suatu hadiah dalam
perjalanan hidup masing-masing, sisa hidup masing-masing adalah menyatukan
kembali serpihan-serpihan mozaik itu menjadi lukisan hidup yang indah, menghiasi
dunia yang penuh cerita ini.
Derita saat ini akan sirna. Waktu akan berjalan menuntaskannya. Dan tentu indah
bagi semuanya.
PASTI.
Oya …….. sekali lagi, namaku Dian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar