17 April 2011

MENYONGSONG AKHIR KEHIDUPAN

Menyongsong Akhir Kehidupan

Ketika suatu episode dalam babak drama kehidupan ini dinyatakan harus berakhir,
adakah seseorang menyambutnya dengan gembira? Secara normal, tidak seorangpun
secara sadar diri menyambut akhir kehidupan ini dengan tabah dan siap. Tabah
menghadapi lonceng kematian, tanpa pernah tahu apa yang terjadi setelah itu.
Siap menghadapi akibat dari seluruh tanggung jawab yang dipikul selama kehidupan
berlangsung. Siap menghadapi kehilangan orang-orang yang dicintai selama ini.
Siapapun itu, entah si miskin entah si kaya ujung-ujungnya harus kembali ke asal
muasal. Ke pangkuan Nya, tanpa bisa kembali lagi ke hiruk pikuk dunia fana ini.

Selama ini kita hanya melihat seseorang meninggalkan kita terlebih dulu. Kita
hanya merasakan suatu kepedihan ditinggalkan. Terutama bila orang itu sungguh
berarti bagi kita, ada rasa kehilangan yang sangat besar. Beda dengan kematian
orang-orang yang banyak menyusahkan , malah tidak ada rasa satupun bergejolak
dalam diri, mungkin hanya perasaan “akhirnya si pembuat onar itu RIP”. Terlepas
dari apakah yang RIP itu adalah orang berarti bagi kita atau tidak, pernahkah
terpikir bagaimana bila tiba-tiba “kita sendiri” yang dihadapkan dengan dentang
peringatan lonceng kematian?

Hampir setengah abad dalam perjalanan hidup ini sekalipun tidak pernah terlintas
di benakku, bagaimana aku pribadi menyongsong akhir kehidupan ini . Saat bau
rumah sakit itu datang menyengat , jarum suntik mulai menari-nari di pembuluh
darahku, air kemih-pun mulai dikumpulkan. Kamera endoskopi mencari-cari dalam
tubuhku, berikut rasa sakit menggigit ketika suatu sampel organ tubuh diambil
untuk keperluan biopsi, proses selanjutnya tinggal menunggu hasil lab patologi,
rasanya menjalani dari suatu proses pemeriksaan yang satu ke yang lain sungguh
lama dan membuat aku bertanya pada diriku sendiri. Bila hasil terakhir tidak
baik, siapkah aku menerimanya? Lebih lanjut bila keadaan memburuk, adakah aku
siap mendengarkan lonceng kematian itu berdentang ? Ada beberapa teman pernah
dalam posisi itu, terkapar tidak berdaya. Aku datang menjenguk untuk memberikan
semangat secara sepihak. Tidak pernah bertanya , bila kemungkinan terburuk
terjadi sudah siapkah ? Hm….hal yang tidak perlu ditanya. Tidak etis. Tidak
bermoral ?Tapi sungguh “sesuatu” yang ingin kuketahui. Siapkah ? Sebrapa siap?
Bagaimana rasanya siap menghadapi lonceng kematian ? Bagaimana menghitung hari
ke jam, jam ke menit, menit ke detik dan …………………

Dan ketika aku sendiri menghadapi kenyataan itu, dalam tangis ada doa, dalam doa
ada tangis. Berdoa ,”Ya Tuhan, tolong kuatkan dan tabahkan saya untuk menerima
kenyataan yang tidak bisa saya hindari”. Menangis karena ada rasa takut menuju
kematian, bagiku itu kegelapan. Tak ada sinar matahari yang kusukai. Tak ada
terang berpendar. Gelap , itulah kesannya. Mata kasatku melihat banyak kali
orang yang telah meninggalkan raganya, dimandikan, lalu dipaku dalam sebuah
peti. Handai tolan semua mengucapkan salam terakhir diiringi tangis dan doa-doa
pendamaian , mengantar keberangkatan itu. Ada yang ditanam begitu saja. Bersatu
dengan dinginnya tanah. Taburan bunga warna warni mewarnai kepergian itu. Ada
juga yang dibakar, hanya menyisakan serpihan tulang-tulang yang tak habis
dimakan api pembakaran. Akhirnya eksistensi dari manusia itu telah berakhir,
tugasnya dalam dunia ini telah usai , yang tertinggal hanya kenangan. Manis dan
pahit. Selalu ada bersebelahan dalam dua sisi yang berlawanan. Yin yang.

Airmataku masih mengalir. Inilah proses dalam hidupku. Semua emosi, marah ,
dendam yang menggayuti diri seolah dibuang jauh. Lenyap. Yang ada rasa ikhlas
dan pasrah. Tidak ada lagi rasa takut. Bukankah aku lahir sendiri ,diberi
kesempatan menikmati keberadaan seseorang dalam proses hidup ini dan akhirnya
akupun pulang sendiri. Ke rumah Bapa di surga, keyakinan itu menjadi semakin
nyata. Aku yakin Dia menerimaku dengan ke dua belah tangan terbuka, entah kalau
Bapa punya banyak tangan, semakin banyak tangan yang menyambutku pulang.
Hm…….hanya keyakinan seperti itu bisa menguatkan diriku yang rapuh. Ya , semua
orang akan mengalami proses yang sama denganku, tak ada yang perlu dikuatirkan
lagi. Aku akan baik-baik saja. Terimakasih Bapa, untuk semua kesadaran diri ini.


Tersenyum di penghujung senja, saat matahari mulai meredup
8 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar