Terhenyak.Gugup dipegangnya gagang pintu itu. Tiba-tiba dia menjadi sangat lelah , pasukan 10 L seolah serentak menyerangnya dari segala penjuru, ada si Lelah, ada si Lemas, si Letih , si Lunglai dan pasukan L lainnya……..
Tak ada pasukan pengaman, dirasanya dirinya mendadak gontai, kakinya lemas,setengah melayang tak menginjak bumi. Tak percaya dipandangnya kenyataan di depan mata. Tak sadar diusapnya tangannya sendiri. Masih tak percaya, perlahan disembunyikan tangan kirinya ke belakang, tangan kanan segera menyatu ke belakang membantu mencubitnya. Nyata. Tidak mimpi.
Kesadaran memulihkan dirinya untuk bersiap membela diri , akankah penyerangan itu tiba?
Pemuda itu berdiri di depannya dengan mata berbinar sendu.
Bagas , demikian dia memperkenalkan dirinya. Anak muda yang gagah. Anak muda yang bernyali, ini lebih tepat untuknya. Sorot matanya tajam , namun bila tertawa , mata itu terkesan sendu. Aneh. Perpaduan mata yang tidak biasa. Rambutnya ikal. Seperti siapa ? Ach …tidak seperti siapa-siapa, begitu dia bergumam sendiri tak jelas. Kurus, tinggi dan rapi. Tipe pemuda pelajar yang baik.
Ingatannya melayang terbang ke masa silam.
Hitungan seperempat abad telah berlalu, hampir saja dia melupakan kejadian itu. Ketika angannya terbang , untaian gambar dalam layar kehidupan itu terlihat begitu nyata dan jelas. Satu persatu episode seperti slide menguak kenangan itu.
Jelas. Nyata.
Masa yang berbahagia. Mungkin yang pertama dan yang terakhir , hanya sekali dalam hidupnya. Semua wanita pasti iri, pastilah api dengki berkobar dalam tungku dada, makhluk mana di dunia ini yang tidak mendambakan kehidupan seperti dirinya?
Menikah dengan seorang pria yang penuh dengan kesuksesan. Wajah tampan. Uang tak henti bergemerincing bila memang boleh ada suara. Malam pengantin sejuta warna. Dimanja, dicintai , disayangi . Dunia seolah menjadi miliknya. Kehidupannya seindah cerita dongeng HC Andersen , ketika akhirnya seorang Cinderella menikah dengan seorang Pangeran tampan. Rumah yang mewah dan tertata rapi. Kolam renang yang lebar, yang cukup untuk pemandian anak-anak di kampungnya. Pelayan yang hilir mudik selalu siap melayani segala sesuatu bagi ndoro putri. Tinggal membunyikan bel, para pelayan siap menjalankan tugas yang diperintahkan.
Apalagi ? Mertua ? Mertua tidak tinggal sama-sama dan lagipula mertuanya bijaksana ,tidak banyak mencampuri urusan anaknya.
Ipar? Adik suaminya hanya seorang saja, itupun tidak tinggal di tanah air, tapi memilih tinggal di negara paman Sam. Thus , apalagi ? Madu kehidupan direguk perlahan, pasti.
Nyaman, sejahtera , bahagia sudah pasti. Makin hari, makin takut dia kehilangan semua ini. Surga kehidupan di bumi, demikianlah sebut teman-temannya melongo berdecak tak henti, terkagum-kagum saat bertandang ke rumahnya.
Di sana ada sosok perempuan itu , Shanti.
Adik kelas di SMA dulu, Shanti adalah kembang top di sekolah dulu, bagaimana tidak ? Hidung bangirnya, alis yang rapi bagai daun glodok atau juga semut beriring, mata yang melankoli, serasa mampu menyedot mata pria yang memandangnya. Belum lagi tubuhnya yang sintal, padat berisi, seolah berkat keindahan wanita tak habis pada fisiknya. Ditambah kulitnya yang putih gading , bau harum yang khas ,yang selalu hadir saat dia lewat. Hm… sebagai seorang wanita saja dia terpesona, apalagi kumbang jantan. Namun ketika itu, dia belum juga menikah. Mungkin dia belum bertemu jodoh dengan pria yang sesuai dengan kriterianya.
Halilintar menyambar. Tubuhnya gemetar.
Tak dapat dikatakan kegalauan yang berkecamuk dalam dirinya. Semua bercampur aduk menjadi satu. Kusut. Mata nanar berpendar bagai sarang laba-laba tak mengenal ujungnya, berputar. Serasa tak menginjak bumi. Lututnya bergetar goyang, lebih dari itu, dirasanya dunia sudah kiamat. Dia berusaha tegar. Berusaha sekali. Dadanya terasa sesak, nafas begitu sulit diatur. Ditariknya nafasnya dalam-dalam. Perlahan dihembuskannya satu persatu. Tak ada suara yang terdengar. Hening. Hanya suami tersayangnya bersimpuh di hadapannya. Ya…dia minta maaf atas kekhilafannya, dia berjanji tak menikahi perempuan itu, namun dia harus bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya. Dia marah. Dia kecewa. Dia menyalahkan Gusti Allah yang telah mencobai dia lebih dari kekuatannya. Ya ….dia sangat marah, bila suaminya tak ada di depannya sekarang ini, sudah dilemparnya piring kristal yang nilainya cukup untuk menambah satu koleksi mobil baru.
Sungguh, emosinya tinggi tak tertahankan , tak teredam.
Dia kecewa.
Dia berusaha keras agar air matanya tak tumpah ruah.
Berusaha tegar setegar-tegarnya, tabah setabah-tabahnya. Kuat sekuat-kuatnya dia menahan perasaan yang membuncah, mendorong melimbungkan kesadarannya. Dia pingsan.
Sendirian. Kesepian. Nelangsa .
Inilah episode tersuram dalam layar kehidupannya.
Sepertinya Gusti Allah sedang membalikkan tangan , kehidupan berbalik. Begitulah nasib dan takdir mempermainkan dirinya.
Menyerah ? Pertama ya, berapa kali sudah , pil-pil itu siap menghilangkan kesadarannya Namun terasa ada tangan yang menahannya. Tunggu dulu. Naluri betinanya seakan mengaum-ngaum mencari tahu siapa lawannya. Siapa wanita yang pengacau itu? Siapa dia yang telah mengoyak dan memberantakkan bahtera kapal kebahagiaannya . Tunggu saatNya. Pembalasan akan tiba. Karma selalu ada. Ach…menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Perseteruan antara si pikiran jahat dan si hati baik seolah beradu kekuatan. Tak sabar. Keputusan bulat. Dialah yang menjadi Gusti Allah, mata dibalas mata , gigi dibalas gigi.
Saatnya , dia mengaum panjang. Pembalasan.
Shanti? Adik kelas bertubuh sintal itu ?
Yang datang bersama waktu itu ke rumahnya bersama teman-temannya?
Tak salah lagi. Ya….. waktu itu bertepatan dengan kepulangan suaminya dari kantor, sehingga dia memperkenalkan teman-temannya . Mereka saling bersapa dan ngobrol bersama semua. Tak sebersitpun rasa curiga muncul di hati. Kejadian itu ,tepatnya satu setengah tahun yang lalu, tak ada yang mencurigakan. Samasekali. Pernah ditemukannya nota makan malam di hotel, yang diserahkan pelayan saat mau membawa bajunya ke binatu.
Ach…tidak ditanyanya soal nota itu, begitu percaya dia pada suaminya. Mungkin saja suaminya habis makan malam bersama kolega bisnisnya. Memang belakangan dia sering pulang larut malam, tapi ya…. dia samasekali tidak mencurigai suaminya itu. Semua baik –baik saja. Hubungan mereka tetap indah. 3 tahun pernikahan berjalan, tak juga ada suara tangis si kecil yang menghiasi rumah itu. Dia menyalahkan dirinya sendiri, mungkin dia masih tegang dengan kehidupan ala Cinderella nya , sehingga kemungkinan ke arah sana tertutup?
Mungkin. Yang jelas , Gusti Allah belum menganugrahinya. Suaminya tak pernah menyalahkannya, belum waktunya , begitu hibur suami tersayangnya. Betapa dia mencintai lelaki itu, betapa dia menyayanginya dari ujung kuku kakinya hingga ujung rambutnya. Mendambakan baunya, mengelus mesra kepalanya, ach …begitu cintanya. Namun sekarang, …. lagi dia mengaum panjang. Rasa sakit yang menusuk, hingga berdarah-darah. Dia diam, hanya terasa tangannya makin sakit , terlalu kuat rupanya mengepal udara.
Orang sewaannya, si detektif amatiran itu menarik dirinya lebih mendekat ke pintu tempat mereka bersembunyi. Melihat lebih jelas lagi. Terlihat laki-laki itu yang nota bene masih berstatus suaminya begitu kasih, menuntun lembut tangan Shanti turun dari mobil. Ya ….dia sendiri yang mengantar perempuan itu ke dokter kandungan. Bukan si Dadang sopir pribadinya. Dadanya tempat bersemayam si jantung terasa berdegup kencang , menggelegak, lahar kemarahan seolah hendak mengalir keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya, nafasnya memburu menahan amarah yang merajalela. Hampir saja emosinya tak tertahankan. Jangan ….jangan sekarang, belum waktunya, tak perlu turun tangan sekarang.
Dia masih ingat , sore itu mendung sangat tebal, bisa dipastikan tak lama lagi ,hujan akan turun deras. Suster itu menyetujuinya. Dia membayarnya tidak murah. Tapi bayi siapa yang akan jadi penggantinya ? Hm….tak peduli, siapa saja, lakukanlah, begitu perintahnya pada suster itu. Sudah berbulan-bulan rencana demi rencana dimatangkannya , hingga tak akan ada kesalahan yang akan terlacak, segala kemungkinan dipersiapkan. Lihatlah bila singa betina mengaum. Belum tahu dia !!!!! Dia menyeringai puas, dalam hatinya dia mengaum panjang.
Pemuda ini sekarang duduk di hadapannya. Necis, rapi.
Suaminya terlihat tersenyum gembira menyambut kedatangan Bagas di rumah, begitu bahagia bertemu satu-satunya buah hatinya itu. Dia sedang berlibur, menengok perempuan itu, mungkin pula perempuan itu yang memintanya kemari, setelah sekian tahun dia berjanji tak akan injakkan kaki di rumah ini. Tak akan menemui suaminya lagi, asal dia diberi fasilitas tempat tinggal berikut nafkah kehidupannya. Cihhhh….sudah merebut suami orang, pakai bersyarat pula.
Bencinya .
Marahnya dia saat itu. Namun rupanya perempuan itu mengaku kalah, bukan salah, mungkin seumur hidup dia tak merasa salah?Tak punya rasa salah jangan-jangan, dia hanya menepati janjinya,mempertemukannya dengan suami tersayangnya setelah dewasa. Ketika dirasa dirinya juga tak sanggup lagi bertahan dengan virus kanker payudara yang menggerogotinya. Mungkin. Karma itu selalu ada. Pastinya perempuan itulah yang menyuruh anaknya untuk datang menemui ayahnya. Pasti. Mungkin.Dia terhenyak. Terpuruk dalam suatu kenyataan di luar angannya.
Bagas nampaknya pemuda yang baik, namun satupun tak ada kemiripan dengan suaminya. Mungkin lelaki itu tidak sadar. Ya ….lelaki itu mudah dibohongi, bisa kumat jantungnya bila perbuatannya dibeberkan. Biarlah lelaki itu tak pernah tahu, bahwa pemuda ini bukanlah benihnya, biarlah.
Diam-diam dia menyeringai, menahan ketawa yang sudah lama pupus dari wajahnya dan memperhatikan telapak tangannya , mengelusnya perlahan lalu membalikkannya.
Denpasar, 10 Juni 2010
[copy URL]
Terhenyak. Gugup dipegangnya gagang pintu itu. Tiba-tiba dia menjadi sangat lelah , pasukan 10 L seolah serentak menyerangnya dari segala penjuru, ada si Lelah, ada si Lemas, si Letih , si Lunglai dan pasukan L lainnya…….. Tak ada pasukan pengaman, dirasanya dirinya mendadak gontai, kakinya lemas,setengah melayang tak menginjak bumi. Tak percaya dipandangnya kenyataan di depan mata. Tak sadar diusapnya tangannya sendiri. Masih tak percaya, perlahan disembunyikan tangan kirinya ke belakang, tangan kanan segera menyatu ke belakang membantu mencubitnya. Nyata. Tidak mimpi. Kesadaran memulihkan dirinya untuk bersiap membela diri , akankah penyerangan itu tiba? Pemuda itu berdiri di depannya dengan mata berbinar sendu. Bagas , demikian dia memperkenalkan dirinya. Anak muda yang gagah. Anak muda yang bernyali, ini lebih tepat untuknya. Sorot matanya tajam , namun bila tertawa , mata itu terkesan sendu. Aneh. Perpaduan mata yang tidak biasa. Rambutnya ikal. Seperti siapa ? Ach …tidak seperti siapa-siapa, begitu dia bergumam sendiri tak jelas. Kurus, tinggi dan rapi. Tipe pemuda pelajar yang baik. Ingatannya melayang terbang ke masa silam. Hitungan seperempat abad telah berlalu, hampir saja dia melupakan kejadian itu. Ketika angannya terbang , untaian gambar dalam layar kehidupan itu terlihat begitu nyata dan jelas. Satu persatu episode seperti slide menguak kenangan itu. Jelas. Nyata. Masa yang berbahagia. Mungkin yang pertama dan yang terakhir , hanya sekali dalam hidupnya. Semua wanita pasti iri, pastilah api dengki berkobar dalam tungku dada, makhluk mana di dunia ini yang tidak mendambakan kehidupan seperti dirinya? Menikah dengan seorang pria yang penuh dengan kesuksesan. Wajah tampan. Uang tak henti bergemerincing bila memang boleh ada suara. Malam pengantin sejuta warna. Dimanja, dicintai , disayangi . Dunia seolah menjadi miliknya. Kehidupannya seindah cerita dongeng HC Andersen , ketika akhirnya seorang Cinderella menikah dengan seorang Pangeran tampan. Rumah yang mewah dan tertata rapi. Kolam renang yang lebar, yang cukup untuk pemandian anak-anak di kampungnya. Pelayan yang hilir mudik selalu siap melayani segala sesuatu bagi ndoro putri. Tinggal membunyikan bel, para pelayan siap menjalankan tugas yang diperintahkan. Apalagi ? Mertua ? Mertua tidak tinggal sama-sama dan lagipula mertuanya bijaksana ,tidak banyak mencampuri urusan anaknya. Ipar? Adik suaminya hanya seorang saja, itupun tidak tinggal di tanah air, tapi memilih tinggal di negara paman Sam. Thus , apalagi ? Madu kehidupan direguk perlahan, pasti. Nyaman, sejahtera , bahagia sudah pasti. Makin hari, makin takut dia kehilangan semua ini. Surga kehidupan di bumi, demikianlah sebut teman-temannya melongo berdecak tak henti, terkagum-kagum saat bertandang ke rumahnya. Di sana ada sosok perempuan itu , Shanti. Adik kelas di SMA dulu, Shanti adalah kembang top di sekolah dulu, bagaimana tidak ? Hidung bangirnya, alis yang rapi bagai daun glodok atau juga semut beriring, mata yang melankoli, serasa mampu menyedot mata pria yang memandangnya. Belum lagi tubuhnya yang sintal, padat berisi, seolah berkat keindahan wanita tak habis pada fisiknya. Ditambah kulitnya yang putih gading , bau harum yang khas ,yang selalu hadir saat dia lewat. Hm… sebagai seorang wanita saja dia terpesona, apalagi kumbang jantan. Namun ketika itu, dia belum juga menikah. Mungkin dia belum bertemu jodoh dengan pria yang sesuai dengan kriterianya. Halilintar menyambar. Tubuhnya gemetar. Tak dapat dikatakan kegalauan yang berkecamuk dalam dirinya. Semua bercampur aduk menjadi satu. Kusut. Mata nanar berpendar bagai sarang laba-laba tak mengenal ujungnya, berputar. Serasa tak menginjak bumi. Lututnya bergetar goyang, lebih dari itu, dirasanya dunia sudah kiamat. Dia berusaha tegar. Berusaha sekali. Dadanya terasa sesak, nafas begitu sulit diatur. Ditariknya nafasnya dalam-dalam. Perlahan dihembuskannya satu persatu. Tak ada suara yang terdengar. Hening. Hanya suami tersayangnya bersimpuh di hadapannya. Ya…dia minta maaf atas kekhilafannya, dia berjanji tak menikahi perempuan itu, namun dia harus bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya. Dia marah. Dia kecewa. Dia menyalahkan Gusti Allah yang telah mencobai dia lebih dari kekuatannya. Ya ….dia sangat marah, bila suaminya tak ada di depannya sekarang ini, sudah dilemparnya piring kristal yang nilainya cukup untuk menambah satu koleksi mobil baru. Sungguh, emosinya tinggi tak tertahankan , tak teredam. Dia kecewa. Dia berusaha keras agar air matanya tak tumpah ruah. Berusaha tegar setegar-tegarnya, tabah setabah-tabahnya. Kuat sekuat-kuatnya dia menahan perasaan yang membuncah, mendorong melimbungkan kesadarannya. Dia pingsan. Sendirian. Kesepian. Nelangsa . Inilah episode tersuram dalam layar kehidupannya. Sepertinya Gusti Allah sedang membalikkan tangan , kehidupan berbalik. Begitulah nasib dan takdir mempermainkan dirinya. Menyerah ? Pertama ya, berapa kali sudah , pil-pil itu siap menghilangkan kesadarannya Namun terasa ada tangan yang menahannya. Tunggu dulu. Naluri betinanya seakan mengaum-ngaum mencari tahu siapa lawannya. Siapa wanita yang pengacau itu? Siapa dia yang telah mengoyak dan memberantakkan bahtera kapal kebahagiaannya . Tunggu saatNya. Pembalasan akan tiba. Karma selalu ada. Ach…menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Perseteruan antara si pikiran jahat dan si hati baik seolah beradu kekuatan. Tak sabar. Keputusan bulat. Dialah yang menjadi Gusti Allah, mata dibalas mata , gigi dibalas gigi. Saatnya , dia mengaum panjang. Pembalasan. Shanti? Adik kelas bertubuh sintal itu ? Yang datang bersama waktu itu ke rumahnya bersama teman-temannya? Tak salah lagi. Ya….. waktu itu bertepatan dengan kepulangan suaminya dari kantor, sehingga dia memperkenalkan teman-temannya . Mereka saling bersapa dan ngobrol bersama semua. Tak sebersitpun rasa curiga muncul di hati. Kejadian itu ,tepatnya satu setengah tahun yang lalu, tak ada yang mencurigakan. Samasekali. Pernah ditemukannya nota makan malam di hotel, yang diserahkan pelayan saat mau membawa bajunya ke binatu. Ach…tidak ditanyanya soal nota itu, begitu percaya dia pada suaminya. Mungkin saja suaminya habis makan malam bersama kolega bisnisnya. Memang belakangan dia sering pulang larut malam, tapi ya…. dia samasekali tidak mencurigai suaminya itu. Semua baik –baik saja. Hubungan mereka tetap indah. 3 tahun pernikahan berjalan, tak juga ada suara tangis si kecil yang menghiasi rumah itu. Dia menyalahkan dirinya sendiri, mungkin dia masih tegang dengan kehidupan ala Cinderella nya , sehingga kemungkinan ke arah sana tertutup? Mungkin. Yang jelas , Gusti Allah belum menganugrahinya. Suaminya tak pernah menyalahkannya, belum waktunya , begitu hibur suami tersayangnya. Betapa dia mencintai lelaki itu, betapa dia menyayanginya dari ujung kuku kakinya hingga ujung rambutnya. Mendambakan baunya, mengelus mesra kepalanya, ach …begitu cintanya. Namun sekarang, …. lagi dia mengaum panjang. Rasa sakit yang menusuk, hingga berdarah-darah. Dia diam, hanya terasa tangannya makin sakit , terlalu kuat rupanya mengepal udara. Orang sewaannya, si detektif amatiran itu menarik dirinya lebih mendekat ke pintu tempat mereka bersembunyi. Melihat lebih jelas lagi. Terlihat laki-laki itu yang nota bene masih berstatus suaminya begitu kasih, menuntun lembut tangan Shanti turun dari mobil. Ya ….dia sendiri yang mengantar perempuan itu ke dokter kandungan. Bukan si Dadang sopir pribadinya. Dadanya tempat bersemayam si jantung terasa berdegup kencang , menggelegak, lahar kemarahan seolah hendak mengalir keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya, nafasnya memburu menahan amarah yang merajalela. Hampir saja emosinya tak tertahankan. Jangan ….jangan sekarang, belum waktunya, tak perlu turun tangan sekarang. Dia masih ingat , sore itu mendung sangat tebal, bisa dipastikan tak lama lagi ,hujan akan turun deras. Suster itu menyetujuinya. Dia membayarnya tidak murah. Tapi bayi siapa yang akan jadi penggantinya ? Hm….tak peduli, siapa saja, lakukanlah, begitu perintahnya pada suster itu. Sudah berbulan-bulan rencana demi rencana dimatangkannya , hingga tak akan ada kesalahan yang akan terlacak, segala kemungkinan dipersiapkan. Lihatlah bila singa betina mengaum. Belum tahu dia !!!!! Dia menyeringai puas, dalam hatinya dia mengaum panjang. Pemuda ini sekarang duduk di hadapannya. Necis, rapi. Suaminya terlihat tersenyum gembira menyambut kedatangan Bagas di rumah, begitu bahagia bertemu satu-satunya buah hatinya itu. Dia sedang berlibur, menengok perempuan itu, mungkin pula perempuan itu yang memintanya kemari, setelah sekian tahun dia berjanji tak akan injakkan kaki di rumah ini. Tak akan menemui suaminya lagi, asal dia diberi fasilitas tempat tinggal berikut nafkah kehidupannya. Cihhhh….sudah merebut suami orang, pakai bersyarat pula. Bencinya . Marahnya dia saat itu. Namun rupanya perempuan itu mengaku kalah, bukan salah, mungkin seumur hidup dia tak merasa salah?Tak punya rasa salah jangan-jangan, dia hanya menepati janjinya,mempertemukannya dengan suami tersayangnya setelah dewasa. Ketika dirasa dirinya juga tak sanggup lagi bertahan dengan virus kanker payudara yang menggerogotinya. Mungkin. Karma itu selalu ada. Pastinya perempuan itulah yang menyuruh anaknya untuk datang menemui ayahnya. Pasti. Mungkin.Dia terhenyak. Terpuruk dalam suatu kenyataan di luar angannya. Bagas nampaknya pemuda yang baik, namun satupun tak ada kemiripan dengan suaminya. Mungkin lelaki itu tidak sadar. Ya ….lelaki itu mudah dibohongi, bisa kumat jantungnya bila perbuatannya dibeberkan. Biarlah lelaki itu tak pernah tahu, bahwa pemuda ini bukanlah benihnya, biarlah. Diam-diam dia menyeringai, menahan ketawa yang sudah lama pupus dari wajahnya dan memperhatikan telapak tangannya , mengelusnya perlahan lalu membalikkannya. Denpasar, 10 Juni 2010
Delete Note
or discard changes
Make Public (create an account for private notes)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar