20 Agustus 2010

Love Me or Leave Me

“Love Me or Leave Me” suara jazz Nina Simone diiringi dawai-dawai bas biola berharmoni bersama senar piano ,mendayu-dayu di telinga, tak hendak pupus…"Yes…love me or leave me, this is what I beg you , my dearest…."



“Maafkan aku sayang, maafkan aku untuk semua yang sudah terjadi, dia sudah tahu semuanya karena itu dia datang dan menamparmu. Maafkan dia, maafkan aku.” Demikian isi SMS terakhir yang diterimanya dari lelaki itu. Tania terdiam, hatinya terkoyak, susunan cinta yang dibangunnya hampir sampai ke ujung langit, tiba-tiba jatuh berantakan . Hancur luluh. Tak berwujud.



“Hahahahaha ,” dalam hati Tania tertawa pahit, menertawakan kebodohan dirinya, lalu bergantian dengan tangisan silih berganti, dan seringai yang terlihat itu pastilah seringai kepedihan. “Sekian lama kau khianatin aku , kau isap sari seluruh harta , jiwa dan ragaku sampai kering susut dan tunggu kau rasakan balasannya, “ada dendam membara tersembunyi rapi di wajahnya.



Terbayang cerita lama itu, lagu ini sangat kental begitu lengket di telinganya, saat ia sedang menghibur dirinya di bar itu, lelaki itu yang selalu membawanya ke sana dan mengenalkannya dengan lagu ini.Saat itu dia juga kelelahan , mencari sesuatu yang berarti dalam hidupnya , bebas dari semua keletihan kerja di perusahaan yang ditinggalkan almarhum suaminya. Melelahkan mengurus perusahaan itu sendiri, bukan tak mampu, tapi sungguh menguras emosi jiwa dan raga. Lelah. Bukan tak mungkin reuni itu juga membuatnya lelah. Suatu episode setelah temu kangen itu. Berawal demikian cepat dan akhirnya kini usai sudah semuanya.



Dan kini dia berada jauh di selat Bosporus , mengayun langkah dalam rumput –rumput hijau yang berhamparan luas dihiasi dengan bunga2 poppies merah darah. Juga seharusnya menghilangkan bayangan seseorang yang tak hendak luput dari ingatannya . Darah merah itu.Lagu Nina Simone selalu setia menemaninya dalam perjalanan ini, Ipod tak hentinya menyajikan lagu ini untuknya. Semua seperti suatu lingkaran yang tak berkesudahan. Ingatannya melayang jauh beberapa saat lalu.



“Berapa usianya Ibu ?"tanya suster klinik itu.

“45,” jawabnya, dia bengong lagi, menatap tak percaya, menegaskan sekali lagi ,” 45? Ibu ?”Tania menggangguk dan menatap sekeliling. Seorang wanita muda sedang bermain kartu dengan anak gadisnya, ditemani suaminya , mungkin suaminya. Siapa tahu saudaranya atau teman lelakinya, “huh….emang apa peduliku, koq jadi sirik , “terasa suatu perasaan galau membelitnya tiba-tiba. Di depannya seorang perempuan cantik tentu masih muda bersama suaminya, mungkin…. yang memangku seorang anak laki-laki kecil lucu bermata sipit. Ya…tentu saja normal, ini klinik bersalin. Dia datang ke sini sendirian, di umur menjelang paruh baya datang ke klinik bersalin, tentu saja mengundang perhatian orang, hm…..dia tersenyum kecut. Siapa sangka ada kejadian aneh seperti ini? Di umur paruh baya, dia yang mengalaminyapun tidak percaya , apalagi orang lain yang hanya mendengar cerita ini. Mungkin dia bisa berdiri di suatu tempat suci , lebih mirip bagai sebuah patung dewi sambil merentangkan tangan seolah memberi berkah.Mungkin Dewi Kesuburan tiba-tiba meminjam tubuhnya menjadi primadona, berbondong-bondong orang pasti akan datang menyembah dan memintanya menjadi dewi pujapuji mereka, agar dianugrahi keturunan. “Ya Gusti Allah, maafkan pikiranku, “ memohon ampun atas dirinya yang telah melayang mengembara ke mana-mana. Kenyataan. Pahit tentunya. Tak ada yang mengharapkan ada episode seperti ini dalam hidup seorang wanita. Hm….



Tester kehamilan pribadi sudah dicoba keduanya, berbeda merk pula, dan keduanya menunjukkan tanda positif, namun dia masih tak percaya. Kalau terjadi 10 atau 20 tahun yl , siapapun sangat percaya, itu normal. Namun di masa menjelang senja? Panik menguasai dirinya.



Dokterpun melongo pada saat dia duduk di depannya, beliau berusaha meng-interogasi tepatnya, seolah-olah aku pesakitan yang harus diadili. Mungkin tidak seperti itu. Namun perasaan galau dan gelisah yang menghinggapinya sejak melihat hasil tester itu, membuatnya bersikap paranoid. Rasa curiga menggayuti diri.



Beliau meneruskan pemeriksaan dengan USG, memeriksa janin dalam perutnya dan beliau diam, lagi melongo. Tania menatap kosong ke layar itu dan terdiam, suster diam menatap layar, dokterpun terdiam dengan mulut setengah terbuka. Suasana hening mencekam. Tania hanya melihat aluran-aluran isi perut yang bergerak kesana kemari. Pikirannya buntu. Dia tidak mengerti. Mungkin karena kaget, dokterpun tidak menerangkan. Selang beberapa saat, dokter mempersilahkannya duduk dan mulai menggali lebih dalam tepatnya. Berawal dengan menerangkan jalan cerita kehamilan, dan kenyataannya tidak mendapatkan adanya kehamilan dalam rahimku. Benarkah seperti itu ? Sejenak Taniapun tercengang dan bersyukur, titipan lelaki itu tidak membuahkan apapun. Hm…..!tapi dokter membuyarkan angannya , ketika berkata, “Hm….Ibu, saya belum pernah menemukan keajaiban seperti ini, yang hanya terjadi mungkin dari sekian juta kasus hanya kemungkinan 1 wanita saja yang mengalami kehamilan alami di umur Ibu, untuk lebih tepatnya karena USG tidak bisa mendeteksi, saya anjurkan untuk pemeriksaan lebih akurat dengan alat yang berbeda di RS pusat. Kalau memang Ibu hamil, sebaiknya Ibu daftar ke MURI , karena ini termasuk peristiwa langka, saya akan membantu Ibu.” Dokter menatapnya seolah terkesima dengan fenomena ini. Diapun seolah tersihir , diam terpaku di tempat. Entah ingin ketawa atau menangis mendengar celetukan dokter itu. Sampai dokter memberikan diagnosanya lebih lanjut, namun Tania sudah tidak bisa mencerna apapun lagi, pikirannya kalut, bingung. Nah… kalau ini kejadian berlangsung di luar negeri tercinta ini, tidak ada masalah, aborsi sudah menjadi suatu hal biasa bila memang tidak menghendaki adanya kehamilan tersebut. Tapi di negeri ini, dimana pemerintah masih turut campur dalam kehidupan pribadi warganya, dengan alasan moral agama seribu satu alasan tentu dilarang, maka tanpa alasan yang jelas, tentu aborsi tidak bisa dilakukan. Apa pedulinya dia hamil atau tidak ?



Tentunya juga dia tidak menghendaki kehamilan ini. Tidak ! dan tidak! Selain umurnya yang semakin menua, juga ini adalah benih lelaki yang dibencinya itu, benih lelaki yang menghianati, menipu dirinya. Saat setan hadir bertiga, tentu dia masih mencintai dan mengharapkan lelaki itu, tapi tidak lagi, setelah dia tahu, ternyata dia hanya sebagai pelampiasan hasrat tak sampai semasa muda, reuni mempertemukan mereka kembali, dan CLBK alias C-inta L-ama B-ersemi K-embali pun terulang kembali, status janda ditinggal mati pasangannya ,mempermudah lelaki itu masuk ke relung hatinya. Tapi tidak lagi, setelah dia tahu semua itu hanya manisnya sebuah mulut demi pelampiasan hasrat sesaat. Tak cuma itu, perusahaan orangtua istrinya yang menjadi emas perkawinan untuk melamar kelelakiannya diambang kebangkrutan, untuk itu pula dia mendekati dirinya, pasti! Sekali dayung 2 ,3 pulau terlampau. Hasilnya , ini…!!!Dia marah menyadari dirinya tertipu mentah-mentah. Lelaki sialan itu mengatakan masih mencintainya dan sedang dalam perjalanan berpisah dengan istrinya, jodoh orangtuanya. Walaupun anak-anak telah hadir dalam kehidupan mereka, namun semua terasa hampa, karena cinta itu memang tak pernah hadir disana, sampai dia bertemu gadis lamanya, dan CLBK. Itulah pengakuannya. Dia percaya. Tak terasa setahun mereka mengenyam keindahan Galih dan Ratna semasa SMA, semua masalah terlupakan. Semua terasa indah. Semua terasa manis. Hidup terasa begitu sempurna. Semua terasa terberkati, hingga sampai pada suatu kenyataan ,bahwa lelaki itu sebenarnya tidak akan pernah menceraikan istrinya, bahkan ketika juga istrinya datang menamparnya di depan lelaki itu, dia hanya diam dan pergi begitu saja di belakang istrinya sambil memohon ampun. Hah……sakitnya. Perihnya. Terlukanya. Tentu setelah tak ada apapun tersisa di dirinya, semua habis, harga dirinya pun ludas.



Hm… tapi bukankah di balik kelemahan selalu tersembunyi kekuatan? Hm…lagi dia menyeringai dan tersenyum. Tentu hasil tester itu akan diperlihatkannya pada lelaki itu, sekian lama dia menunggu lelaki ini dan kini tiba saatnya untuk memperoleh sesuatu darinya. Tidak ada makan siang yang gratis di dunia ini. Berpikirlah secara digital bila engkau tak mampu berpikir secara nurani, entah bisikan setan atau malaikat, dia tak sempat memilahnya. Bisikan itu terdengar mendayu-dayu merayu dirinya.



Dihelanya nafasnya panjang dan nikmat terasa. Sebelum dia pergi besok ke ujung negeri mediterania itu, dia harus melaksanakan tekadnya. Diundangnya lelaki itu datang ke apartment nya. Tanpa kesulitan dia datang. Mungkin dia penasaran, atau juga masih ingin merayu ? hm….!Dan lelaki itu hanya terdiam menyaksikan hasil tester itu, lalu mengibaskan tangannya seolah tak perduli, katanya.”Belum tentu ini hasilmu, bisa saja kau ambil dari perempuan lain, atau kalaupun ini benar, belum tentu ini benihku.”



Tania ingin melihat yang terjelekpun , paling tidak lelaki itu meminta maaf akan kekhilafannya , dia akan memaafkannya, itulah skenario yang diharapkannya. Namun kenyataan bahwa lelaki itu sudah bahkan melukai harga dirinya habis-habisan sungguh di luar dugaan. Semua terjadi begitu cepat.Darah merah membanjir, tepat mengenai jantungnya. Matanya melotot seolah tak percaya, lalu berusaha mencabut pisau yang tertancap itu. “Kau …kau ….sialan.” Dia hanya menatap lelaki itu menyeringai tajam. Dia lupa saat marah tadi, dia telah kalap, memakai jurus silat yang pernah dipelajari semasa kuliah. Ternyata sekian lama tanpa latihanpun masih membuahkan hasil, darah itu terlihat mulai tergenang. Lelaki itupun diam ,kejang tepatnya. Dia menyeringai , puas, tajam menyeret tubuh itu ke dalam lemari bajunya, membersihkan darah yang mulai mengering , lalu perlahan dia mulai mengepak pakaian yang akan dibawanya besok , sambil bersenandung , tak ada kecemasan, tak ada perasaan apapun. Mungkin perasaan itu sudah tak ada lagi pada hatinya. Apapun bentuk emosi itu sudah tak ada lagi. Ya…. mungkin saja dia sudah gila. Hanya orang gila bisa berbuat seperti ini.



Dia masih bersenandung…….

Dicabutnya kelopak merah itu satu persatu dan meniupnya jatuh ke laut biru Selat Bosporus. Ini adalah cerita hidupnya, dan di sini ,dia akan menyelesaikan semuanya. Tebing ini cukup tinggi. Diletakkannya sepatunya dengan rapi, surat pernyataan maafpun diselipkannya di bawah sepatu itu. Ipod diletakkan di atas sepatu, diputarnya tombol ON.



Akhirnya semua selesai begitu saja. Kisahnya telah berakhir. Terasa damai. Tubuhnya melayang ringan. Dia merasa seperti burung bebas dari semuanya, sampai kesadaran itu lenyap tak bersisa.



Ipod masih mendendangkan lagu Nina Simone. Love Me or Leave Me. Entah sampai kapan.



Denpasar, 19 August 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar