Ang Mahal Ko’y Ikaw Pa Rin
Matahari perlahan turun, menyembunyikan diri menuju ke haribaan bumi pertiwi.
Tenggelam dalam hitungan detik demi detik. Garis-garis laut tampak nyata
membentang horizontal di ujung sana. Kilau awan-awan berarak datang memukau
turut menyambut datangnya senja. Temarampun datang menyelimuti senja. Lukisan
alam hasil karya Yang Maha Esa begitu nyata dan jelas. Suara ombak kecil
memecah pantai turut menyatu memperindah nuansa alam. Paduan yang sungguh
harmonis. Sangat alami tak tercampur oleh rekayasa manusia. Pesona alam pantai
begitu damai terasa di senja hari ini .
Nina duduk menatap semua keindahan senja di pantai itu. Disruputnya teh hangat yang sudah mulai mendingin. Seperti dalam usianya yang kini beranjak senja.
Menjelang hampir setengah abad. Rambut-rambut panjangnya mulai memutih di sana
sini, seiring berbagai pengalaman menghiasi dan mewarnai perjalanan hidupnya.
Salah satu episode dalam panggung sandiwara kehidupan. Lagu dari negeri
seberang , dalam bahasa Tagalog “Ang Mahal Ko’y Ikaw Pa Rin “, mengalun lembut
,merayapi ingatannya menembus waktu menuju suatu titik dalam perjalanan
hidupnya. Lagu kenangan yang mengiringinya untuk mengantar kepergian Ale
memilih jalan hidupnya.
Hm ……..pantai ini mirip pantai rendevous di bumi nusantara, hm…cerita yang
hampir usang. 20 tahun kah ? 22 tahun kah ? Persisnya dia tidak ingat. Namun
kenangan itu sangat jelas terpampang seperti tayangan film. Terlalu indah
karena itu nyata. Hanya duduk berdua di pantai, duduk diam-diam menikmati alam,
tidak hanya dalam hitungan menit, tapi berjam-jam ,berdua duduk diam
menikmatinya. Tanpa kata,tanpa cerita. Hening. Bagi orang lain mungkin tidak
ada artinya, namun bagi mereka berdua tanpa kata sudah mewakili hati yang
menyatu. Sungguh-sungguh menikmati hadiah keindahan alam dariNya. Kenangan
demi kenangan melayang merasuk dan menggugah sukma.
“ Horas Nin…., “ salam hangat bernada bariton pagi itu membuka kembali cerita
lama. “Selamat ulang tahun, Nina……. semoga panjang umur…….dan sehat 2
tentunya,….. gimana keadaanmu ? “ Oops….suara bariton itu, suara lembut penuh
semangat kedamaian dari ujung sana. Siapa lagi , kalau bukan si Batak itu ? Si
Batak Ale beribu Pinoy yang telah mengabdikan diri sepenuhnya untuk pelayanan
di sebuah gereja , jauh dari tanah air. Pengalaman hidupnya , berawal dari
tanah Batak hingga keliling ke ujung bumi, pindah dari satu tempat ke tempat
lain penuh warna dan pengalaman hidup yang tidak biasa alias luarbiasa.
Nina belum pernah bertemu dengan seseorang yang begitu mempesona diri dengan
jati diri seadanya. Belum ada. Belum pernah dalam perjalanan hidup hingga
setengah abad ini bertemu seseorang yang membuatnya terkagum-kagum , seolah dia bertemu manusia setengah dewa . Dan dia merasa sangat terberkati pernah mengisi hatinya dengan seseorang yang begitu dikaguminya. A-L-E- hatinya penuh kasih
penuh cinta, batinnya terlalu kaya, sehingga dia perlu membagi cinta kasihnya
untuk orang-orang yang kekurangan . Sungguh mirip dengan Mother Teresa. Apakah dia penjelmaan reinkarnasi dari seorang santo atau dewi kasih ? Seluruh
hidupnya hanya untuk orang lain, Nina tersenyum . Dia masih saja terpesona.
Kapan saja dia selalu terpesona oleh keberadaan Ale, bahkan tergila-gila. Ya…si
Ale ini adalah seseorang yang pernah mengisi episode kehidupan cinta murninya.
Cinta tanpa pamrih. Hanya mencintai. Di dunia yang carut marut penuh kepalsuan.
Yang hanya melihat dan menilai semua secara kasat mata. Tapi manusia Ale ini
hanya mengabdikan diri murni tanpa pamrih, seolah hati manusia ini adalah
bejana yang penuh terus terisi kedamaian. Hasil yang diterimanya dari gereja
itu adalah untuk pembangunan di desanya, disumbangkan untuk kepentingan
anak-anak yatim piatu, anak-anak miskin , pembangunan asrama putra putri. Tanpa
pernah menceritakan darimana. Tanpa pernah membanggakan dirinya. Tapi
teman-teman di lingkungan itu mengenalnya dan menyebutnya Father Ale.
Ingatan Nina melayang –layang, dari tahun ke tahun, ternyata dia masih
mengingat ulangtahunku, begitu desis hatinya. Uh…rasa berbinar bahagia
terpancar keluar lubuk hatinya, sungguh dia merasa terpenuhi dengan perhatian
Ale. Walaupun hanya sesaat.Tentu saja Ale tidak pernah tahu bahwa malam-malam
Nina selalu penuh dengan bayangan Ale. Mimpipun mimpi Ale. Ketika itu , seluruh perhatiannya tercurah hanya pada Ale, apa yang dilakukannya , apa yang
dimakannya, masihkah dia membagi jatah nasinya untuk anak-anak jalanan dan
membiarkan lambungnya luka lagi. Walaupun ketika rasa nyeri menderanya, dia
masih bisa tersenyum . Membagikan sandal jepitnya untuk menggantikan sandal
menganga si bapak tukang kebun. Ach …si Ale yang selalu rela berkorban untuk
orang lain. Dia akan membiarkan dirinya sendiri sakit, seolah sakit adalah
makanan sehari-hari, asalkan siapapun yang berada di hadapannya tidak kesakitan
Ale …….Ale ……..dan Ale seakan-akan mempunyai nyawa rangkap. Semakin dekat
mengenalnya, semakin jiwa dan sukma Nina tersedot habis oleh keindahan karakter
manusia yang satu ini. Ketika suatu waktu , Tatia anak asrama miskin menangis
karena terpaksa menjual diri kecilnya demi menebus obat Ibunya, Alepun turut
menangis menyesali diri , tak bisa melakukan apapun untuk meringankan beban
Tatia , hanya bisa mendengarkan pengakuan Tatia dan hanya bisa berusaha
membantu mendengarkan dan mencari orang yang sanggup membantu keuangan Tatia.
Ketika dia kelelahan dia jatuh tertidur di tangga gereja itu , saat menunggu
Nina datang untuk membawakan hasil bazaar , yang bisa membantu kesulitan Tatia.
Nina tahu jelas, dia juga menenggelamkan dirinya dalam doa-doa malam yang
khusuk dan sujud diri sepenuhnya mencoba pasrah di hadapan Tuhan YME. Bahwa dia
harus kuat dan tabah menerima kenyataan yang tidak bisa diubahnya. Seolah Nina
memang ditakdirkan menjadi belahan jiwa tanpa pernah menyentuhnya secara
badani, namun ada suatu ikatan batin yang sudah saling mengikat. Persahabatan
murni. Begitu indah , begitu suci, begitu mulia. Nina tahu tak ada yang bisa
merubah niat Ale untuk sepenuhnya untuk berkarya di ladang Tuhan.
Teringat ketika masa-masa flamboyan itu , kerap dia menuliskan namanya
berpasangan dengan Ale dalam suatu simbol hati berwarna merah muda, dan
menyelipkannya dalam buku hariannya. Begitu rapat tersimpan perasaan itu, Nina
terlalu lembut untuk membuka perasaannya. Karena dia tahu, Ale akan terbebankan bila mengetahui bahwa dirinya sungguh mencintai pria setengah dewa ini
sepenuhnya. Dia tahu, dirinya selalu siap untuk Ale. Apapun itu, juga ketika
Ale katakan padanya , bahwa dia memilih jalan hidup selibat dan mengabdikan
diri sepenuhnya untuk kebiaraannya. Walaupun dia melepas kepergian Ale dengan
senyum, dia tahu senyum itu senyum terpaksa , karena cintanya. Cintanyapun
adalah pengorbanan. Dia berani mencintai, diapun berani menanggung resikonya.
Rasa kehilangan rasa kosong sepi yang ditinggalkan Ale membuat seluruh
kehidupan Nina saat itu serasa melayang jauh tak kembali ke dunia fana. Dia
menerima tawaran ayah untuk melanjutkan kuliah ke Manila. Tak tanggung –
tanggung jurusan yang diambil adalah kedokteran , cita-citanya untuk menolong
orang lain , seperti juga Ale, dalam bentuk pengabdian yang berbeda. Dan
akhirnya dia bertugas di pulau Cebu sebagai dokter polisi. Hm……suatu perjalanan jauh.
Begitu banyak rekan-rekan Pinoy yang menyukainya , bahkan ingin meminangnya,
bagaimana tidak, kelembutan Nina sebagai seorang keturunan keraton Jawa,
ketegasannya dalam profesi kerjanya membuat semua orang menghormatinya,
mengaguminya, namun hati Nina tetap tidak bergeming, entah kenapa , bayangan
Ale hingga kapanpun tak bisa dilenyapkan. Ya Nina hidup dalam bayang-bayang
ilusi kenangan akan Ale. Sahabatnya , Mary Anne yang mengetahui kisahnya selalu memperoloknya, dan memintanya untuk melihat kenyataan, namun hati Nina tidak
bergeming, bagi dia cintanya untuk Ale abadi , tidak bisa ditawar lagi. Kata
orang Jakarta, gene hare ? masih ada makhluk seperti Nina ? ngimpi kali
ye………..Namun kenyataannya ya seperti itu, orangtuanyapun sudah berputus asa
untuk membujuknya menikah dan akhirnya membiarkannya memilih kehidupannya
sendiri, hingga rambutnyapun mulai berubah warna. Namun dia merasa bahagia
dalam kesendiriannya. Tentu saja orang – orang disekelilingnya menganggap
bahwa dia perempuan aneh. Nina hanya tertawa ketika orang-orang usil mulai ikut campur dan mendesaknya untuk berumahtangga.
Dalam setahun , hanya hari ulangtahunnyalah yang ditunggunya penuh getaran
kerinduan, karena hanya pada hari itulah Ale tetap ingat dan menelponnya ,
terpisah dalam jarak ribuan mil . Selama dua dekade tak pernah Ale
melupakannya. Bila dia terlalu sibuk,maka di hari berikutnya, suara bariton itu akan menyapa paginya dengan suara penuh semangat. Persis seperti putri Orihime
dari bintang Vega yang selalu menunggu kekasihnya ,Hikkoboshi pada hari
Tanabata, tanggal 7 Juli adalah hari pertemuannya kedua bintang itu.
Bunyi sirene terdengar meraung-raung. Telpon genggamnya berdering nyaring.
Dari hospital memintanya untuk segera datang . Oops.... seharusnya ini bukan
jam kerjanya. Mungkin dokter jaga Martin sedang berhalangan. Hm…. Nina membayar tehnya dan segera menyebrang menyetir mobilnya ke arah hospital tidak jauh
dari pantai itu. Segera diparkirnya mobilnya. Bergegas dia menuju ke arah ruang tunggu. Di depan hospital terlihat banyak orang-orang berkerumun sambil
menangis histeris mengikuti kereta pasien didorong oleh staff ambulance. Begitu banyak orang kampung berteriak histeris, “Father ….Father……. wake up Father,
don't leave us. Don’t……Father …..!!!” beberapa diantaranya memegang kaki dan
tangannya. Seolah takut kehilangan.
Nina terhenyak, muka itu begitu mirip. Tapi tidak mungkin dia ada di negeri
ini. Bukankah dia berada di negeri matahari. Dia merasa penglihatannya
terganggu. Pasti dia kembali terganggu dengan ilusinya sendiri, bukankah
menurut pepatah di dunia ini ada 3 orang yang begitu mirip , mungkin ini salah
satunya. Nina bergegas ke ruang unit darurat. Tangannya gemetar ketika membaca
kartu pasien, “Father Ale Ignacio”, matanya yang tertutup rapat , tangan
mencengkeram pinggiran kursi untuk menahan rasa sakit. Rambut putihnya tidak
menyembunyikan kharisma wibawa seorang Ale. Walaupun sekian lama waktu sudah
memisahkan.“ Benar , dia Ale –ku, Ale-ku yang selalu mengisi hidupku dari waktu ke waktu”, jerit hati Nina. Tak kuasa Nina menahan gejolak emosi yang begitu
menderanya, tubuhnya limbung dan kesadarannya lenyap seketika.
Ketika tersadar , setengah berlari dia pergi ke ruang unit darurat, dilihatnya para jururawat menatapnya dengan iba ,lalu menyerahkan sebuah gelang perak
polos berukirkan nama Nina-Ale di atas sebuah buku catatan lusuh. Airmata
mengalir deras tak terbendung lagi. Terisak-isak dia menggenggam kedua barang
itu. Terhuyung-huyung dia melangkah ke kamarnya. Dia sadar tak ada
yang bisa diperbuatnya. Ale telah tiada. Ale telah pergi , mendahuluinya,
menghadap Tuhan junjungannya. Tak guna dia bersedih, Ale tentu sudah bahagia di sana.
Dari otopsi team dokter akhirnya menjelaskan semuanya. Dia menderita kanker
lambung di stadium keempat, hanya tinggal menunggu waktu, dan dia bertahan
sekian lama untuk tidak berobat, karena dia tidak tega meninggalkan jemaat
miskin di tempat terpencil di pulau Luzon , yang selalu mengharapkan
kehadirannya waktu demi waktu , dalam pelayanan di sebuah gereja di kampung
ibunya.
Dia seorang martir sejati, dia seorang Ale, dia manusia yang penuh pengabdian, bagai lilin rela meleleh demi penerangan , rela menderita demi manusia lainnya.
Ternyata dia berada begitu dekat dengan Nina tanpa sepengetahuan Nina . Ale
tidak ingin mengganggu Nina dengan emosinya sendiri yang dirasa mengusik
nuraninya. Ya… dia juga cinta Nina, tapi dia sudah memutuskan untk mencintai
Nina sama seperti mencintai jemaat lainnya. Tapi hatinya tidak bisa
membohonginya. Saat rindu menderanya, dia hanya menulis di buku catatan itu
......
“NINA, ANG MAHAL KO’Y IKAW PA RIN” -
“You ‘re still the one I love”……………beribu2 kali.
"Mahal Kita " -
" I love you"......................tak terhingga...........
Denpasar, 8 Februari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar