16 April 2011

ANG MAHAL KO'Y IKAW PA RIN

Ang Mahal Ko’y Ikaw Pa Rin



Matahari  perlahan turun,  menyembunyikan diri menuju ke haribaan bumi pertiwi. 



Tenggelam dalam hitungan detik demi detik. Garis-garis laut tampak nyata 
membentang horizontal di ujung sana. Kilau awan-awan  berarak  datang memukau
turut menyambut datangnya senja. Temarampun  datang menyelimuti senja. Lukisan
alam hasil karya Yang Maha Esa  begitu  nyata dan jelas. Suara ombak kecil
memecah pantai turut menyatu  memperindah nuansa alam. Paduan yang sungguh
harmonis. Sangat alami tak  tercampur oleh rekayasa manusia. Pesona alam pantai
begitu damai terasa  di senja hari ini .



Nina  duduk menatap semua keindahan senja di pantai itu. Disruputnya teh  hangat yang sudah mulai mendingin. Seperti dalam usianya yang kini  beranjak senja.
Menjelang hampir setengah abad. Rambut-rambut panjangnya  mulai memutih di sana
sini, seiring berbagai pengalaman  menghiasi dan mewarnai perjalanan hidupnya.
Salah satu episode dalam panggung sandiwara kehidupan.  Lagu dari negeri
seberang , dalam bahasa Tagalog  “Ang Mahal Ko’y Ikaw Pa Rin “, mengalun lembut
,merayapi ingatannya  menembus  waktu menuju suatu titik dalam perjalanan
hidupnya. Lagu kenangan yang  mengiringinya untuk mengantar kepergian Ale
memilih jalan hidupnya.



Hm  ……..pantai ini mirip pantai rendevous di bumi nusantara, hm…cerita yang 
hampir usang. 20 tahun kah ? 22 tahun kah ? Persisnya dia tidak ingat.  Namun
kenangan itu sangat jelas terpampang seperti tayangan film.  Terlalu indah
karena itu nyata. Hanya duduk berdua di pantai, duduk  diam-diam menikmati alam,
tidak hanya dalam hitungan menit, tapi  berjam-jam ,berdua duduk diam
menikmatinya. Tanpa kata,tanpa cerita.  Hening. Bagi orang lain mungkin tidak
ada artinya, namun bagi mereka  berdua tanpa kata sudah mewakili hati yang
menyatu. Sungguh-sungguh  menikmati hadiah keindahan alam  dariNya. Kenangan
demi kenangan melayang merasuk dan menggugah sukma.



“  Horas Nin…., “ salam hangat bernada bariton pagi itu membuka kembali  cerita
lama. “Selamat ulang tahun, Nina……. semoga panjang umur…….dan  sehat 2
tentunya,….. gimana keadaanmu ? “ Oops….suara bariton itu, suara  lembut penuh
semangat kedamaian dari ujung sana. Siapa lagi , kalau  bukan si Batak itu ? Si
Batak Ale beribu Pinoy yang telah mengabdikan  diri sepenuhnya untuk pelayanan
di sebuah gereja , jauh dari tanah air.  Pengalaman hidupnya , berawal dari
tanah Batak hingga keliling ke ujung  bumi, pindah dari satu tempat ke tempat
lain penuh warna dan pengalaman  hidup yang tidak biasa alias luarbiasa.

Nina  belum pernah bertemu dengan seseorang yang begitu mempesona diri dengan 
jati diri seadanya. Belum ada. Belum pernah dalam perjalanan hidup  hingga
setengah abad ini bertemu seseorang yang membuatnya  terkagum-kagum , seolah dia bertemu manusia setengah dewa . Dan dia  merasa sangat terberkati pernah mengisi hatinya dengan seseorang yang  begitu dikaguminya. A-L-E- hatinya penuh kasih
penuh cinta, batinnya  terlalu kaya, sehingga dia perlu membagi cinta kasihnya
untuk  orang-orang yang kekurangan . Sungguh mirip dengan Mother Teresa. Apakah  dia penjelmaan reinkarnasi dari seorang santo atau dewi kasih  ?  Seluruh
hidupnya hanya untuk orang lain, Nina tersenyum . Dia masih  saja terpesona.
Kapan saja dia selalu terpesona oleh keberadaan Ale,  bahkan tergila-gila. Ya…si




Ale ini adalah seseorang yang pernah mengisi  episode kehidupan cinta murninya.
Cinta tanpa pamrih. Hanya mencintai.  Di dunia yang carut marut penuh kepalsuan.
Yang hanya melihat dan  menilai semua secara kasat mata. Tapi manusia Ale ini
hanya mengabdikan  diri murni tanpa pamrih, seolah hati manusia ini adalah
bejana yang  penuh terus terisi kedamaian. Hasil yang diterimanya dari gereja
itu  adalah untuk pembangunan di desanya, disumbangkan untuk kepentingan 
anak-anak yatim piatu, anak-anak miskin , pembangunan asrama putra  putri. Tanpa
pernah menceritakan darimana. Tanpa pernah membanggakan  dirinya. Tapi
teman-teman di lingkungan itu mengenalnya dan menyebutnya  Father Ale.



Ingatan  Nina melayang –layang, dari tahun ke tahun, ternyata dia masih 
mengingat ulangtahunku, begitu desis hatinya. Uh…rasa berbinar bahagia 
terpancar keluar lubuk hatinya, sungguh dia merasa terpenuhi dengan  perhatian
Ale. Walaupun hanya sesaat.Tentu saja Ale tidak pernah tahu  bahwa malam-malam
Nina selalu penuh dengan bayangan Ale.  Mimpipun mimpi Ale. Ketika itu , seluruh perhatiannya  tercurah  hanya pada Ale, apa yang dilakukannya , apa yang
dimakannya, masihkah  dia membagi jatah nasinya untuk anak-anak jalanan dan
membiarkan  lambungnya luka lagi. Walaupun ketika rasa nyeri menderanya, dia
masih  bisa tersenyum . Membagikan sandal jepitnya untuk menggantikan sandal 
menganga si bapak tukang kebun. Ach …si Ale yang selalu rela berkorban  untuk
orang lain. Dia akan membiarkan dirinya sendiri sakit, seolah  sakit adalah
makanan sehari-hari, asalkan siapapun yang berada di  hadapannya tidak kesakitan

 Ale …….Ale ……..dan Ale seakan-akan  mempunyai nyawa rangkap. Semakin dekat
mengenalnya, semakin jiwa dan  sukma Nina tersedot habis oleh keindahan karakter
manusia yang satu ini.  Ketika suatu waktu , Tatia anak asrama miskin menangis
karena terpaksa menjual diri kecilnya demi menebus obat Ibunya, Alepun  turut 
menangis menyesali diri , tak bisa melakukan apapun untuk meringankan  beban
Tatia , hanya bisa mendengarkan pengakuan Tatia dan hanya bisa  berusaha
membantu mendengarkan dan mencari orang yang sanggup membantu  keuangan Tatia.
Ketika dia kelelahan dia jatuh tertidur di tangga gereja  itu , saat menunggu
Nina datang untuk membawakan hasil bazaar , yang  bisa membantu kesulitan Tatia.




Nina tahu jelas, dia juga menenggelamkan  dirinya dalam doa-doa malam yang
khusuk dan sujud diri sepenuhnya  mencoba pasrah di hadapan Tuhan YME. Bahwa dia
harus kuat dan tabah  menerima kenyataan yang tidak bisa diubahnya. Seolah Nina
memang  ditakdirkan menjadi belahan jiwa tanpa pernah menyentuhnya secara 
badani, namun ada suatu ikatan batin yang sudah saling mengikat.  Persahabatan
murni. Begitu indah , begitu suci, begitu mulia. Nina tahu  tak ada yang bisa
merubah niat Ale untuk sepenuhnya untuk berkarya di  ladang Tuhan.



Teringat  ketika masa-masa flamboyan itu , kerap dia menuliskan namanya 
berpasangan dengan Ale dalam suatu simbol hati berwarna merah muda, dan 
menyelipkannya dalam buku hariannya. Begitu rapat tersimpan perasaan  itu, Nina
terlalu lembut untuk membuka perasaannya. Karena dia tahu, Ale  akan terbebankan bila mengetahui bahwa dirinya sungguh mencintai pria  setengah dewa ini
sepenuhnya. Dia tahu, dirinya  selalu  siap untuk Ale. Apapun itu, juga ketika
Ale katakan padanya , bahwa dia  memilih jalan hidup selibat dan mengabdikan
diri sepenuhnya untuk  kebiaraannya. Walaupun dia melepas kepergian Ale dengan
senyum, dia tahu  senyum itu senyum  terpaksa , karena cintanya. Cintanyapun 
adalah pengorbanan. Dia berani mencintai, diapun berani menanggung  resikonya.
Rasa kehilangan rasa kosong sepi yang ditinggalkan  Ale  membuat seluruh
kehidupan Nina saat itu serasa melayang jauh tak  kembali ke dunia fana. Dia
menerima tawaran ayah untuk melanjutkan  kuliah ke Manila. Tak tanggung –
tanggung jurusan yang diambil adalah  kedokteran , cita-citanya untuk menolong
orang lain , seperti juga Ale,  dalam bentuk pengabdian yang berbeda. Dan
akhirnya dia bertugas di pulau  Cebu sebagai dokter polisi. Hm……suatu perjalanan jauh.



Begitu  banyak rekan-rekan Pinoy yang menyukainya , bahkan ingin meminangnya, 
bagaimana tidak, kelembutan Nina sebagai seorang keturunan keraton Jawa, 
ketegasannya dalam profesi kerjanya membuat semua orang menghormatinya, 
mengaguminya, namun hati Nina tetap tidak bergeming, entah kenapa ,  bayangan
Ale hingga kapanpun tak bisa dilenyapkan. Ya Nina hidup dalam  bayang-bayang
ilusi kenangan akan Ale. Sahabatnya , Mary Anne yang  mengetahui kisahnya selalu memperoloknya, dan memintanya untuk melihat  kenyataan, namun hati Nina tidak
bergeming, bagi dia cintanya untuk Ale  abadi , tidak bisa ditawar lagi. Kata
orang Jakarta, gene hare ? masih  ada makhluk seperti Nina ? ngimpi kali
ye………..Namun kenyataannya ya  seperti itu, orangtuanyapun sudah berputus asa
untuk membujuknya menikah  dan akhirnya membiarkannya memilih kehidupannya
sendiri, hingga  rambutnyapun mulai berubah warna. Namun dia merasa bahagia
dalam  kesendiriannya. Tentu saja orang – orang disekelilingnya menganggap 
bahwa dia perempuan aneh. Nina hanya tertawa ketika orang-orang usil  mulai ikut campur dan mendesaknya untuk berumahtangga.



Dalam  setahun , hanya hari ulangtahunnyalah yang ditunggunya penuh getaran 
kerinduan, karena hanya pada hari itulah Ale tetap ingat dan menelponnya  ,
terpisah dalam jarak ribuan mil . Selama dua dekade tak pernah Ale 
melupakannya. Bila dia terlalu sibuk,maka di hari berikutnya, suara  bariton itu akan menyapa paginya dengan suara penuh semangat. Persis  seperti putri Orihime
dari bintang  Vega yang selalu menunggu kekasihnya ,Hikkoboshi pada hari
Tanabata, tanggal 7 Juli adalah hari pertemuannya kedua bintang itu.

Bunyi  sirene terdengar meraung-raung. Telpon genggamnya berdering nyaring. 
Dari hospital memintanya untuk segera datang . Oops.... seharusnya ini  bukan
jam kerjanya. Mungkin dokter jaga Martin sedang berhalangan. Hm….  Nina membayar tehnya dan segera menyebrang menyetir mobilnya  ke  arah hospital tidak jauh
dari pantai itu. Segera diparkirnya mobilnya.  Bergegas dia menuju ke arah ruang tunggu. Di depan hospital terlihat  banyak orang-orang berkerumun sambil
menangis histeris mengikuti kereta  pasien didorong oleh staff ambulance. Begitu banyak orang kampung  berteriak histeris, “Father ….Father……. wake up Father,
don't leave us.  Don’t……Father …..!!!” beberapa diantaranya memegang kaki dan
tangannya.  Seolah takut kehilangan.



Nina  terhenyak, muka itu begitu mirip. Tapi tidak mungkin dia ada di negeri 
ini. Bukankah dia berada di negeri matahari. Dia merasa penglihatannya 
terganggu. Pasti dia kembali terganggu dengan ilusinya sendiri, bukankah 
menurut pepatah di dunia ini ada 3 orang yang begitu mirip , mungkin  ini salah
satunya. Nina bergegas ke ruang unit darurat. Tangannya  gemetar ketika membaca
kartu pasien, “Father Ale Ignacio”, matanya yang  tertutup rapat , tangan
mencengkeram pinggiran kursi untuk menahan rasa  sakit. Rambut putihnya tidak
menyembunyikan kharisma wibawa seorang Ale.  Walaupun sekian lama waktu sudah
memisahkan.“ Benar , dia Ale –ku,  Ale-ku yang selalu mengisi hidupku dari waktu ke waktu”, jerit hati  Nina. Tak kuasa Nina menahan gejolak emosi yang begitu
menderanya,  tubuhnya limbung dan kesadarannya lenyap seketika.

Ketika  tersadar , setengah berlari dia pergi ke ruang unit  darurat, dilihatnya para jururawat menatapnya dengan iba ,lalu menyerahkan  sebuah gelang perak
polos berukirkan nama Nina-Ale di atas sebuah buku catatan lusuh. Airmata 
mengalir deras tak terbendung lagi. Terisak-isak dia menggenggam kedua barang
itu. Terhuyung-huyung dia melangkah ke kamarnya. Dia sadar tak ada
yang  bisa diperbuatnya.  Ale telah tiada. Ale telah pergi ,  mendahuluinya,
menghadap Tuhan junjungannya. Tak guna dia bersedih, Ale  tentu sudah bahagia di sana.

Dari  otopsi team dokter akhirnya menjelaskan semuanya. Dia menderita  kanker
lambung di stadium keempat, hanya tinggal menunggu waktu, dan  dia bertahan
sekian lama untuk tidak berobat, karena dia tidak tega  meninggalkan jemaat
miskin di tempat terpencil di pulau Luzon , yang  selalu mengharapkan
kehadirannya waktu demi waktu , dalam pelayanan di sebuah  gereja di kampung
ibunya.

Dia  seorang martir sejati, dia seorang Ale, dia manusia yang penuh pengabdian,  bagai lilin rela meleleh demi penerangan , rela menderita  demi manusia lainnya.


Ternyata dia berada begitu dekat dengan Nina  tanpa sepengetahuan Nina . Ale
tidak ingin mengganggu Nina dengan  emosinya sendiri yang dirasa mengusik
nuraninya. Ya… dia juga cinta  Nina, tapi dia sudah memutuskan untk mencintai
Nina sama seperti  mencintai jemaat lainnya. Tapi hatinya tidak bisa
membohonginya. Saat  rindu menderanya, dia hanya menulis di buku catatan itu 
......

“NINA, ANG MAHAL KO’Y IKAW PA RIN”  -
“You ‘re still the one I love”……………beribu2 kali.
"Mahal Kita " -
" I love you"......................tak terhingga...........




Denpasar, 8 Februari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar