12 Agustus 2011

Oya......Namaku Dian

Kuberusaha sekuat hati menahan deraian airmata yang hendak menyeruak di sudut
mata.T-E-R-H-A-R-U. Wajahnya berseri-seri. Dibukanya genggaman tangannya, di
sana ada setumpukan melati putih, Mukanya sumringah bagai anak kecil pulang
sekolah membawakan hadiah kesukaan untuk Bunda tersayangnya. Kubuka tanganku
menerimanya, mencium aroma melati suci. Dia berusaha menyenangkanku, dia sungguh
berusaha, aku tahu, aku mengerti. Aku sangat menyukai bunga putih ini, kecil
namun harumnya membuat kedamaian dan kenyamanan hati. Tidak mudah memperolehnya
di tanah kering ini, entah dimana dia memperolehnya. Rasa lelah menggayut diri
tiba-tiba saja sirna begitu saja. Sesaat terpesona . Sesaat ada rasa ingin
berlabuh sesaat dalam pelukannya. Mungkin aku mulai jatuh cinta?

Tapi ………

Beberapa purnama telah berlalu, aku sadar sesadar-sadarnya mulai tergantung
padanya. Ada rasa aman dan damai diri di sana, rasa terimakasih dan simpati
mendalam karena telah membantu menyelesaikan masalah hidupku. Mendengar kisah
hidupnya , penuh perjuangan dan derita, kadang kumelamun bertanya adakah orang
lahir untuk menderita ? rasanya tidak, setiap orang hidup seharusnya wajib
bahagia, kesempatan untuk berbahagia seharusnya diraih. Hm………..empatiku berubah
menjadi simpati dan selanjutnya sangat alami bila keadaan berkembang menjadi
suatu cerita cinta.

Persoalan ekonomi di dunia nyata ini selalu bisa memainkan peranan hidup ke arah
negatif. Kenyataan kehidupan yang pahit, membuatnya terpisah dari Ibunda
tercinta, tinggal bersama orang lain yang dipanggilnya paman. Ada rasa terbuang,
karena dia yang dipilih dari sekian banyak saudara untuk diberikan ke paman.
Terpisah sanak saudara membiarkan kesepian mengakrabi dirinya. Hidup bersama
paman itu tak jauh berbeda , hanya saja paman hanya memiliki dirinya seorang,
tidak perlu hingar bingar berebut makanan dengan saudara lainnya. Namun kesepian
dan hati terbuang seringkali hadir dalam mimpinya. Dalam pertumbuhan mencari
jatidiri, merasa hidup kesepian tanpa arti, hingga terperosok ke jahanam si obat
terlarang , membuatnya putus asa . Sungguh lelah, bertanya pada Sang Khalik, apa
gunanya dia lahir di dunia ini? Merasa diri tak kuat menanggung beban.
Syukurlah, paman masih menyayanginya dan berusaha keras menjadikannya seseorang
yang lebih baik, seorang yang mandiri dan tidak berputus asa menghadapi
kenyataan hidup ini.

Dia mulai bisa menata kehidupannya kembali , dia mulai terbiasa menerima
kenyataan hidup seadanya, bekerja dan hidup normal seperti orang lain. Baginya
sudah cukup bagus. Namun permainan nasib seolah tak henti menghempas dirinya.
Bencana satu persatu menerpa dirinya. Menghampiri dirinya tanpa keraguan. Lagi
dan lagi. Ada apa ini ? Apa yang salah dengan kelahirannya? Takdirnya? Nasibnya?
Selain dirinya, adakah orang lain mengalami nhal seperti dirinya? Dia bertanya
dan bertanya, namun hanya angin bertiup sepoi-sepoi menyirnakan jawabannya.

Akhirnya ketika si “tambatan hati” muncul dan menjadikan dermaga perahu diri
yang sudah terlalu berat dengan muatan derita , cahaya kehidupan mulai bersinar
sedikit demi sedikit bebanpun mulai terangkat ringan. Kehidupan bahagia
terbentang dalam proses pencarian jati diri. Buah cinta pun hadir di tengah
kebahagiaan itu.

Namun………

Tak lama badai menghempaskan perahu kehidupannya kembali. Belahan jiwa si
tambatan hati meninggalkannya begitu saja, pergi bersama lelaki lain. Begitu
saja tanpa pesan. Dia melihatnya beberapa kali bersama lelaki itu, namun tak ada
kecurigaan terbersit di benaknya. Dia percaya penuh pada si belahan jiwa. Dia
sungguh mencintai ibu buah hatinya ini. Perselingkuhan itu melenyapkan semua
rasa indah yang ada, cinta lama itu telah kandas, tak hendak berlabuh lagi. Apa
yang salah pada dirinya, dia tak hendak lagi menghakimi dirinya yang dirasanya
sudah cukup berusaha membahagiakan anak istrinya. Sakittttttt, perasaan dendam
merasuk dan menggayuti dirinya sedemikian rupa, syukurlah dia masih waras untuk
membesarkan buah hatinya dengan baik. Walaupun berat. Dia merasa tak berdaya,
tapi kehidupan pahit ini harus dijalaninya. Mau tidak mau. Suka tidak suka.
Namun ya…badai memang terlihat begitu menyukai dirinya, kembali menerbangkan dan
menghempaskan dirinya. Usaha yang tengah dirintisnya tidak terlalu lancar.
Kekesalan diri dan depresi menghancurkan kesadarannya ,hingga muncul
kecerobohannya , dan api rokokpun menjalar menghabiskan semua usahanya . Tak
bersisa.

Hampa. Terasa kosong.

Dia duduk terpekur diam, merasa sudah sampai di ambang batas kesadaran, di ujung
kegilaan. Tiba-tiba saja dia sudah ada di pekuburan itu, duduk di bawah kamboja
yang menaungi kuburan itu, hingga ayam berkokok menyambut pagi . Sudah gilakah
dirinya ? Tak waras? Mungkin saja. Dia gontai melangkah pergi, menuju ke arah
pantai lalu merendam tubuhnya tanpa disadarinya. Bisikan demi bisikan terdengar
menyertainya kemanapun dia melangkah, dia merasa hampir gila. Ya….. gila……!!!!
Lelah!!!!!

Dia sungguh lelah, rasanya tak tahu lagi apa yang harus diperbuat, ketika si
buah hati tidur, dia membelai kepalanya dan airmatanya turun tak tertahankan.
Ingin sekali bersandar, namun bukan pada dunia yang sudah terlalu menyakitkan
ini.

Botol obat itu telah pecah berserakan di lantai, pil-pil itu setengah
berhamburan di sana sini, separuhnya telah menghuni perutnya. Kesadaran terasa
mulai timbul tenggelam. Dia diam dalam hening. Kesenyapan yang menakutkan.
Digapainya bantal untuk menekan hidungnya, namun tak ada tenaga tersisa.
"Maafkan aku Tuhan, kutak sanggup memikul beban yang Kau sediakan untukku, kutak
cukup kuat lagi". Gelap……….

Matanya nanar menatap matahari pagi yang menerobos masuk melalui kisi-kisi
jendela kamarnya. Dia melenguh dan mendapati dirinya masih dalam keadaan sadar.
Terseok lunglai dia berdiri. Die hard seperti film yang ditontonnya beberapa
waktu yang lalu, ternyata dia masih eksis di dunia nyata ini. Tugas apa lagi
yang menanti dirinya? Tak hentinya dia bergumam, bertanya dan bertanya pada
dirinya sendiri.

Kesadaran bahwa memang bila memang belum waktuNya, apapun yang dilakukan tidak
akan mengubah nasibnya. Dia harus merubah cara berpikiranya. Baiklah Tuhan,
saya siap menerima apapun yang Kau inginkan, yang Kau rencanakan untukku. Saya
SIAP melaksanakan.

Sewindu berlalu. Bukanlah waktu yang pendek. Dia berjuang menatap masa depan,
menapak kehidupannya. Dia telah berjanji tak ‘kan kalah oleh nasib yang dianggap
buruk, dia harus menang sampai akhir hayatnya. Mungkin ini adalah karma dalam
kehidupan sekarang ini. Tapi dia telah siap. Menunggu datangnya badai, menerima
semua kemungkinan yang akan terjadi, seperti air mengalir. Tak ada lagi
pertentangan, namun hanya pasrah dan berusaha menerima semuanya. Baik atau
buruk. Dia percaya mendung tidak selamanya kelabu, bukankan pinggiran mendung
berwarna keperakan juga menyertai hidupnya. Dia hanya harus tegar.

Ketika pagi menjelang kesibukan telah menantinya. Dia larut dalam kerja,
walaupun ketika senja beranjak dalam kesepian malam, terasa waktu berjalan lebih
panjang dan lama. Tak dipungkirinya dia berharap ada yang membukakan hati untuk
mengisi kekosongan hatinya. Dan rupanya permainan nasib telah menunjukkanku , si
Dian untuk menjadi D-I-A-N dalam kegelapan hatinya. Menurutnya , kehadiranku
bagai embun meneteskan perlahan di hatinya yang lelah. Tetesan itu terasa nikmat
dan hangat, sekaligus menyejukkan, sesuai namaku Dian, tak pernah padam
sekaligus menghangatkannya. Itu selalu diucapkannya , membuat hatiku
berbunga-bunga. Sesungguhnya , aku merasa takut jatuh cinta padanya, aku juga
punya cerita tak kalah pahit dengan dirinya, kisah perjalananku bukan indah
seperti namaku Dian Indahnia. Hm…. aku justru merasa dingin tak suka menyandang
nama itu. Hatiku sudah beku seiring perjalanan cintaku. Banyak hal menyakitakan
terjadi. Dian itu telah padam, sesungguhnya hanya empati yang berubah menjadi
simpati mendengar cerita hidupnya. Ada rasa iba, kasihan menguasai diri, karena
dia mempunyai si kembar buah hati yang hidup bersamanya, tak terbayangkan
seandainya hal itu terjadi pada diriku, adakah aku sanggup bertahan seperti
dirinya ? hm…..

Ada rasa ingin muncul sebagai pahlawan atau dewi? Yang menolong si kodok
terperangkap saat ingin jadi pangeran untuk hidup lebih baik. Pahlawan kesiangan
mungkin, karena perasaan iba berkuasa. Hatiku mendua, ada rasa ingin
merengkuhnya saat berkeluh kesah, ada rasa bertahan tak ingin goyah dengan
masalah cinta lagi. Takut untuk mebuka hatiku sendiri, takut memulai, takut
mencoba, tepatnya jera mencoba lagi, perjalanan di depan mata terasa begitu
terjal dan sulit bila bersamanya.

Bimbang dan ragu. Namun ketika empati itu berubah jadi simpati, sesuatu perasaan
lain bermain di dalam pikiran menuju perasaan terdalam , dian yang padam itu
mulai bersinar. Diam-diam perlahan ternyata aku mulai menyukainya. Perhatiannya
dan ketegarannya telah menarikku dalam rengkuhan pelukannya yang hangat.
Hari-hari terasa penuh madu. Manis. Indah Tapi ada kegalauan di sana. Ada rasa
bingung juga dengan berjalannya waktu.
Buah hatinya masih sangat membutuhkan kehadiran sosok seorang Bunda. Aku seorang
wanita karier. Sosok itu tak ada padaku, dia tidak peduli, dia hanya ingin aku
menemaninya selama masa hidupnya. Aku juga, ada rasa ketergantungan dengan
kehadirannya dalam hidupku yang hambar itu. Tapi………

Surat itu terbuka di depanku. Dia memang selalu menugaskanku untuk membuka
surat-surat yang masuk untuknya. Dari tambatan hati lamanya.

Isinya menyatakan penyesalan diri dan penuh kerinduan pada buah hati yang telah
lama ditinggalkan. Ingin bertemu menyatakan secara langsung ingin kembali
mengayuh kehidupan dalam perahu yang sama , menuai bersama masa depan bersama
buah hati. Demikian tertulis gamblang di kertas berwarna merah muda lembut itu.
Aku terhenyak, tanganku berubah jadi dingin. Kuminum air di gelas di mejaku.
Tanganku dingin. Kepalaku terasa berat. Inikah saat penentuan itu ?

Bingung sesaat, haruskah kuserahkan surat ini ?Perasaan galau menerpa dan
menguasaiku. Hening.

Dia beranjak, pergi meninggalkanku terpekur dalam kebisuan malam. Sosok tubuh
itu semakin jauh meninggalkanku. Ada rasa perih. NYERI.

Bayangan kenangan itu mulai merasuk diri. Ketika itu, dia pulang ke pulau
asalnya, menengok Bunda-nya, menyapa saudara dan bersilahturahmi dengan
tetangga-tetangganya, setelah sekian tahun meninggalkan kampung halamannya. Di
sanalah kami bertemu kembali setelah sekian lama tak bertemu. Saat kukecil,
berambut panjang dikepang dua dengan boneka si Bong2 yang gendut adalah tetangga
sebelah rumahnya dulu. Dia suka menarik rambutku, menarik rambut bonekaku saat
itu, menarik pita dan kancing baju Bong2 hingga putus. Aku akan marah hingga
menangis. Dia akan lari sambil mengejek setelah aku ngambek dan mulai menangis
bombai. Lokan-lokan yang kukumpulkan dengan susah payah akan diterjangnya dengan
kaki dekilnya, seolah tanpa bersalah dia akan melenggang seenaknya. Membuatku
sungguh erosi jiwa saat itu. Aku marah dan mengejarnya. Mungkin dia suka melihat
reaksiku saat itu, dan menjadi kenangan kecil yang indah baginya.

Hampir setengah abad berlalu, salah satu kisah anak manusia di dunia ini yang
telah mengalami suka duka kehidupan menjadikan masing-masing pribadi yang dewasa
dan lebih banyak mempertimbangkan kepentingan semua di atas kepentingan pribadi.
Ketika perjalanan waktu itu menyambung kembali pertemuan ini, gelombang magnet
menyeret kenangan masa kecil dan menyatukannya kembali, bagai puzzle2
ditempatkan di asalnya. Bukan hal aneh , bila satu sama lain saling membutuhkan.
Namun semua ada waktuNya. Ketika surat itu datang, naluri dan tanggung jawab
seoarang ayah tentunya lebih berperan daripada cinta hanya diantara mereka.
Cinta pada tambatan hati yang pernah padam bisa dinyalakan kembali sesuai
kepentingan, bukankah si kembar buah hati lebih penting dari lain-lainnya.
Melupakan pengkhianatan itu tidak mudah, tapi pintu maaf seiring waktu pastinya
tersedia. Kehadiran Bunda kandungnya tentulah hadiah luarbiasa yang lama
ditunggu-tunggunya. Aku mengerti, walaupun ketika surat itu dibacanya, tanpa ada
perubahan pada wajahnya. Aku sungguh mengerti. Masing-masing tak berdaya.
Pasrah.

Aku , Dian telah bersiap diri. Walaupun sakit…..

Ketika dian itu sekalinya dinyalakan akan meletup-letup , memancar keluar tak
henti, tetap ada waktunya dian itu padam sendiri. Biarkan semua itu berlalu.
Dian itu akan mengisi relung hati masing-masing dengan kenangan indah yang telah
selesai dirajut. Api dian itu memerlukan waktu untuk kembali padam. Biarkanlah
airmata mengalir untuk memadamkannya.

Dia merengkuhku dan memelukku kuat, selain ‘”maafkan aku” , lainnya tak ada
satupun kata diucapkan .Hanya matanya yang berbicara, airmata mengalir tanpa
bisa kubendung. Dia harus kembali pada posisinya dalam keluarga. Membuat si
kembar buah hatinya bahagia adalah tanggung jawabnya, bukan masalah pilihan
lagi. Apa yang terjadi diantara diriku dan dirinya adalah suatu hadiah dalam
perjalanan hidup masing-masing, sisa hidup masing-masing adalah menyatukan
kembali serpihan-serpihan mozaik itu menjadi lukisan hidup yang indah, menghiasi
dunia yang penuh cerita ini.

Derita saat ini akan sirna. Waktu akan berjalan menuntaskannya. Dan tentu indah
bagi semuanya. 
PASTI. 
Oya …….. sekali lagi, namaku Dian.

17 April 2011

MENYONGSONG AKHIR KEHIDUPAN

Menyongsong Akhir Kehidupan

Ketika suatu episode dalam babak drama kehidupan ini dinyatakan harus berakhir,
adakah seseorang menyambutnya dengan gembira? Secara normal, tidak seorangpun
secara sadar diri menyambut akhir kehidupan ini dengan tabah dan siap. Tabah
menghadapi lonceng kematian, tanpa pernah tahu apa yang terjadi setelah itu.
Siap menghadapi akibat dari seluruh tanggung jawab yang dipikul selama kehidupan
berlangsung. Siap menghadapi kehilangan orang-orang yang dicintai selama ini.
Siapapun itu, entah si miskin entah si kaya ujung-ujungnya harus kembali ke asal
muasal. Ke pangkuan Nya, tanpa bisa kembali lagi ke hiruk pikuk dunia fana ini.

Selama ini kita hanya melihat seseorang meninggalkan kita terlebih dulu. Kita
hanya merasakan suatu kepedihan ditinggalkan. Terutama bila orang itu sungguh
berarti bagi kita, ada rasa kehilangan yang sangat besar. Beda dengan kematian
orang-orang yang banyak menyusahkan , malah tidak ada rasa satupun bergejolak
dalam diri, mungkin hanya perasaan “akhirnya si pembuat onar itu RIP”. Terlepas
dari apakah yang RIP itu adalah orang berarti bagi kita atau tidak, pernahkah
terpikir bagaimana bila tiba-tiba “kita sendiri” yang dihadapkan dengan dentang
peringatan lonceng kematian?

Hampir setengah abad dalam perjalanan hidup ini sekalipun tidak pernah terlintas
di benakku, bagaimana aku pribadi menyongsong akhir kehidupan ini . Saat bau
rumah sakit itu datang menyengat , jarum suntik mulai menari-nari di pembuluh
darahku, air kemih-pun mulai dikumpulkan. Kamera endoskopi mencari-cari dalam
tubuhku, berikut rasa sakit menggigit ketika suatu sampel organ tubuh diambil
untuk keperluan biopsi, proses selanjutnya tinggal menunggu hasil lab patologi,
rasanya menjalani dari suatu proses pemeriksaan yang satu ke yang lain sungguh
lama dan membuat aku bertanya pada diriku sendiri. Bila hasil terakhir tidak
baik, siapkah aku menerimanya? Lebih lanjut bila keadaan memburuk, adakah aku
siap mendengarkan lonceng kematian itu berdentang ? Ada beberapa teman pernah
dalam posisi itu, terkapar tidak berdaya. Aku datang menjenguk untuk memberikan
semangat secara sepihak. Tidak pernah bertanya , bila kemungkinan terburuk
terjadi sudah siapkah ? Hm….hal yang tidak perlu ditanya. Tidak etis. Tidak
bermoral ?Tapi sungguh “sesuatu” yang ingin kuketahui. Siapkah ? Sebrapa siap?
Bagaimana rasanya siap menghadapi lonceng kematian ? Bagaimana menghitung hari
ke jam, jam ke menit, menit ke detik dan …………………

Dan ketika aku sendiri menghadapi kenyataan itu, dalam tangis ada doa, dalam doa
ada tangis. Berdoa ,”Ya Tuhan, tolong kuatkan dan tabahkan saya untuk menerima
kenyataan yang tidak bisa saya hindari”. Menangis karena ada rasa takut menuju
kematian, bagiku itu kegelapan. Tak ada sinar matahari yang kusukai. Tak ada
terang berpendar. Gelap , itulah kesannya. Mata kasatku melihat banyak kali
orang yang telah meninggalkan raganya, dimandikan, lalu dipaku dalam sebuah
peti. Handai tolan semua mengucapkan salam terakhir diiringi tangis dan doa-doa
pendamaian , mengantar keberangkatan itu. Ada yang ditanam begitu saja. Bersatu
dengan dinginnya tanah. Taburan bunga warna warni mewarnai kepergian itu. Ada
juga yang dibakar, hanya menyisakan serpihan tulang-tulang yang tak habis
dimakan api pembakaran. Akhirnya eksistensi dari manusia itu telah berakhir,
tugasnya dalam dunia ini telah usai , yang tertinggal hanya kenangan. Manis dan
pahit. Selalu ada bersebelahan dalam dua sisi yang berlawanan. Yin yang.

Airmataku masih mengalir. Inilah proses dalam hidupku. Semua emosi, marah ,
dendam yang menggayuti diri seolah dibuang jauh. Lenyap. Yang ada rasa ikhlas
dan pasrah. Tidak ada lagi rasa takut. Bukankah aku lahir sendiri ,diberi
kesempatan menikmati keberadaan seseorang dalam proses hidup ini dan akhirnya
akupun pulang sendiri. Ke rumah Bapa di surga, keyakinan itu menjadi semakin
nyata. Aku yakin Dia menerimaku dengan ke dua belah tangan terbuka, entah kalau
Bapa punya banyak tangan, semakin banyak tangan yang menyambutku pulang.
Hm…….hanya keyakinan seperti itu bisa menguatkan diriku yang rapuh. Ya , semua
orang akan mengalami proses yang sama denganku, tak ada yang perlu dikuatirkan
lagi. Aku akan baik-baik saja. Terimakasih Bapa, untuk semua kesadaran diri ini.


Tersenyum di penghujung senja, saat matahari mulai meredup
8 Maret 2011

16 April 2011

ANG MAHAL KO'Y IKAW PA RIN

Ang Mahal Ko’y Ikaw Pa Rin



Matahari  perlahan turun,  menyembunyikan diri menuju ke haribaan bumi pertiwi. 



Tenggelam dalam hitungan detik demi detik. Garis-garis laut tampak nyata 
membentang horizontal di ujung sana. Kilau awan-awan  berarak  datang memukau
turut menyambut datangnya senja. Temarampun  datang menyelimuti senja. Lukisan
alam hasil karya Yang Maha Esa  begitu  nyata dan jelas. Suara ombak kecil
memecah pantai turut menyatu  memperindah nuansa alam. Paduan yang sungguh
harmonis. Sangat alami tak  tercampur oleh rekayasa manusia. Pesona alam pantai
begitu damai terasa  di senja hari ini .



Nina  duduk menatap semua keindahan senja di pantai itu. Disruputnya teh  hangat yang sudah mulai mendingin. Seperti dalam usianya yang kini  beranjak senja.
Menjelang hampir setengah abad. Rambut-rambut panjangnya  mulai memutih di sana
sini, seiring berbagai pengalaman  menghiasi dan mewarnai perjalanan hidupnya.
Salah satu episode dalam panggung sandiwara kehidupan.  Lagu dari negeri
seberang , dalam bahasa Tagalog  “Ang Mahal Ko’y Ikaw Pa Rin “, mengalun lembut
,merayapi ingatannya  menembus  waktu menuju suatu titik dalam perjalanan
hidupnya. Lagu kenangan yang  mengiringinya untuk mengantar kepergian Ale
memilih jalan hidupnya.



Hm  ……..pantai ini mirip pantai rendevous di bumi nusantara, hm…cerita yang 
hampir usang. 20 tahun kah ? 22 tahun kah ? Persisnya dia tidak ingat.  Namun
kenangan itu sangat jelas terpampang seperti tayangan film.  Terlalu indah
karena itu nyata. Hanya duduk berdua di pantai, duduk  diam-diam menikmati alam,
tidak hanya dalam hitungan menit, tapi  berjam-jam ,berdua duduk diam
menikmatinya. Tanpa kata,tanpa cerita.  Hening. Bagi orang lain mungkin tidak
ada artinya, namun bagi mereka  berdua tanpa kata sudah mewakili hati yang
menyatu. Sungguh-sungguh  menikmati hadiah keindahan alam  dariNya. Kenangan
demi kenangan melayang merasuk dan menggugah sukma.



“  Horas Nin…., “ salam hangat bernada bariton pagi itu membuka kembali  cerita
lama. “Selamat ulang tahun, Nina……. semoga panjang umur…….dan  sehat 2
tentunya,….. gimana keadaanmu ? “ Oops….suara bariton itu, suara  lembut penuh
semangat kedamaian dari ujung sana. Siapa lagi , kalau  bukan si Batak itu ? Si
Batak Ale beribu Pinoy yang telah mengabdikan  diri sepenuhnya untuk pelayanan
di sebuah gereja , jauh dari tanah air.  Pengalaman hidupnya , berawal dari
tanah Batak hingga keliling ke ujung  bumi, pindah dari satu tempat ke tempat
lain penuh warna dan pengalaman  hidup yang tidak biasa alias luarbiasa.

Nina  belum pernah bertemu dengan seseorang yang begitu mempesona diri dengan 
jati diri seadanya. Belum ada. Belum pernah dalam perjalanan hidup  hingga
setengah abad ini bertemu seseorang yang membuatnya  terkagum-kagum , seolah dia bertemu manusia setengah dewa . Dan dia  merasa sangat terberkati pernah mengisi hatinya dengan seseorang yang  begitu dikaguminya. A-L-E- hatinya penuh kasih
penuh cinta, batinnya  terlalu kaya, sehingga dia perlu membagi cinta kasihnya
untuk  orang-orang yang kekurangan . Sungguh mirip dengan Mother Teresa. Apakah  dia penjelmaan reinkarnasi dari seorang santo atau dewi kasih  ?  Seluruh
hidupnya hanya untuk orang lain, Nina tersenyum . Dia masih  saja terpesona.
Kapan saja dia selalu terpesona oleh keberadaan Ale,  bahkan tergila-gila. Ya…si




Ale ini adalah seseorang yang pernah mengisi  episode kehidupan cinta murninya.
Cinta tanpa pamrih. Hanya mencintai.  Di dunia yang carut marut penuh kepalsuan.
Yang hanya melihat dan  menilai semua secara kasat mata. Tapi manusia Ale ini
hanya mengabdikan  diri murni tanpa pamrih, seolah hati manusia ini adalah
bejana yang  penuh terus terisi kedamaian. Hasil yang diterimanya dari gereja
itu  adalah untuk pembangunan di desanya, disumbangkan untuk kepentingan 
anak-anak yatim piatu, anak-anak miskin , pembangunan asrama putra  putri. Tanpa
pernah menceritakan darimana. Tanpa pernah membanggakan  dirinya. Tapi
teman-teman di lingkungan itu mengenalnya dan menyebutnya  Father Ale.



Ingatan  Nina melayang –layang, dari tahun ke tahun, ternyata dia masih 
mengingat ulangtahunku, begitu desis hatinya. Uh…rasa berbinar bahagia 
terpancar keluar lubuk hatinya, sungguh dia merasa terpenuhi dengan  perhatian
Ale. Walaupun hanya sesaat.Tentu saja Ale tidak pernah tahu  bahwa malam-malam
Nina selalu penuh dengan bayangan Ale.  Mimpipun mimpi Ale. Ketika itu , seluruh perhatiannya  tercurah  hanya pada Ale, apa yang dilakukannya , apa yang
dimakannya, masihkah  dia membagi jatah nasinya untuk anak-anak jalanan dan
membiarkan  lambungnya luka lagi. Walaupun ketika rasa nyeri menderanya, dia
masih  bisa tersenyum . Membagikan sandal jepitnya untuk menggantikan sandal 
menganga si bapak tukang kebun. Ach …si Ale yang selalu rela berkorban  untuk
orang lain. Dia akan membiarkan dirinya sendiri sakit, seolah  sakit adalah
makanan sehari-hari, asalkan siapapun yang berada di  hadapannya tidak kesakitan

 Ale …….Ale ……..dan Ale seakan-akan  mempunyai nyawa rangkap. Semakin dekat
mengenalnya, semakin jiwa dan  sukma Nina tersedot habis oleh keindahan karakter
manusia yang satu ini.  Ketika suatu waktu , Tatia anak asrama miskin menangis
karena terpaksa menjual diri kecilnya demi menebus obat Ibunya, Alepun  turut 
menangis menyesali diri , tak bisa melakukan apapun untuk meringankan  beban
Tatia , hanya bisa mendengarkan pengakuan Tatia dan hanya bisa  berusaha
membantu mendengarkan dan mencari orang yang sanggup membantu  keuangan Tatia.
Ketika dia kelelahan dia jatuh tertidur di tangga gereja  itu , saat menunggu
Nina datang untuk membawakan hasil bazaar , yang  bisa membantu kesulitan Tatia.




Nina tahu jelas, dia juga menenggelamkan  dirinya dalam doa-doa malam yang
khusuk dan sujud diri sepenuhnya  mencoba pasrah di hadapan Tuhan YME. Bahwa dia
harus kuat dan tabah  menerima kenyataan yang tidak bisa diubahnya. Seolah Nina
memang  ditakdirkan menjadi belahan jiwa tanpa pernah menyentuhnya secara 
badani, namun ada suatu ikatan batin yang sudah saling mengikat.  Persahabatan
murni. Begitu indah , begitu suci, begitu mulia. Nina tahu  tak ada yang bisa
merubah niat Ale untuk sepenuhnya untuk berkarya di  ladang Tuhan.



Teringat  ketika masa-masa flamboyan itu , kerap dia menuliskan namanya 
berpasangan dengan Ale dalam suatu simbol hati berwarna merah muda, dan 
menyelipkannya dalam buku hariannya. Begitu rapat tersimpan perasaan  itu, Nina
terlalu lembut untuk membuka perasaannya. Karena dia tahu, Ale  akan terbebankan bila mengetahui bahwa dirinya sungguh mencintai pria  setengah dewa ini
sepenuhnya. Dia tahu, dirinya  selalu  siap untuk Ale. Apapun itu, juga ketika
Ale katakan padanya , bahwa dia  memilih jalan hidup selibat dan mengabdikan
diri sepenuhnya untuk  kebiaraannya. Walaupun dia melepas kepergian Ale dengan
senyum, dia tahu  senyum itu senyum  terpaksa , karena cintanya. Cintanyapun 
adalah pengorbanan. Dia berani mencintai, diapun berani menanggung  resikonya.
Rasa kehilangan rasa kosong sepi yang ditinggalkan  Ale  membuat seluruh
kehidupan Nina saat itu serasa melayang jauh tak  kembali ke dunia fana. Dia
menerima tawaran ayah untuk melanjutkan  kuliah ke Manila. Tak tanggung –
tanggung jurusan yang diambil adalah  kedokteran , cita-citanya untuk menolong
orang lain , seperti juga Ale,  dalam bentuk pengabdian yang berbeda. Dan
akhirnya dia bertugas di pulau  Cebu sebagai dokter polisi. Hm……suatu perjalanan jauh.



Begitu  banyak rekan-rekan Pinoy yang menyukainya , bahkan ingin meminangnya, 
bagaimana tidak, kelembutan Nina sebagai seorang keturunan keraton Jawa, 
ketegasannya dalam profesi kerjanya membuat semua orang menghormatinya, 
mengaguminya, namun hati Nina tetap tidak bergeming, entah kenapa ,  bayangan
Ale hingga kapanpun tak bisa dilenyapkan. Ya Nina hidup dalam  bayang-bayang
ilusi kenangan akan Ale. Sahabatnya , Mary Anne yang  mengetahui kisahnya selalu memperoloknya, dan memintanya untuk melihat  kenyataan, namun hati Nina tidak
bergeming, bagi dia cintanya untuk Ale  abadi , tidak bisa ditawar lagi. Kata
orang Jakarta, gene hare ? masih  ada makhluk seperti Nina ? ngimpi kali
ye………..Namun kenyataannya ya  seperti itu, orangtuanyapun sudah berputus asa
untuk membujuknya menikah  dan akhirnya membiarkannya memilih kehidupannya
sendiri, hingga  rambutnyapun mulai berubah warna. Namun dia merasa bahagia
dalam  kesendiriannya. Tentu saja orang – orang disekelilingnya menganggap 
bahwa dia perempuan aneh. Nina hanya tertawa ketika orang-orang usil  mulai ikut campur dan mendesaknya untuk berumahtangga.



Dalam  setahun , hanya hari ulangtahunnyalah yang ditunggunya penuh getaran 
kerinduan, karena hanya pada hari itulah Ale tetap ingat dan menelponnya  ,
terpisah dalam jarak ribuan mil . Selama dua dekade tak pernah Ale 
melupakannya. Bila dia terlalu sibuk,maka di hari berikutnya, suara  bariton itu akan menyapa paginya dengan suara penuh semangat. Persis  seperti putri Orihime
dari bintang  Vega yang selalu menunggu kekasihnya ,Hikkoboshi pada hari
Tanabata, tanggal 7 Juli adalah hari pertemuannya kedua bintang itu.

Bunyi  sirene terdengar meraung-raung. Telpon genggamnya berdering nyaring. 
Dari hospital memintanya untuk segera datang . Oops.... seharusnya ini  bukan
jam kerjanya. Mungkin dokter jaga Martin sedang berhalangan. Hm….  Nina membayar tehnya dan segera menyebrang menyetir mobilnya  ke  arah hospital tidak jauh
dari pantai itu. Segera diparkirnya mobilnya.  Bergegas dia menuju ke arah ruang tunggu. Di depan hospital terlihat  banyak orang-orang berkerumun sambil
menangis histeris mengikuti kereta  pasien didorong oleh staff ambulance. Begitu banyak orang kampung  berteriak histeris, “Father ….Father……. wake up Father,
don't leave us.  Don’t……Father …..!!!” beberapa diantaranya memegang kaki dan
tangannya.  Seolah takut kehilangan.



Nina  terhenyak, muka itu begitu mirip. Tapi tidak mungkin dia ada di negeri 
ini. Bukankah dia berada di negeri matahari. Dia merasa penglihatannya 
terganggu. Pasti dia kembali terganggu dengan ilusinya sendiri, bukankah 
menurut pepatah di dunia ini ada 3 orang yang begitu mirip , mungkin  ini salah
satunya. Nina bergegas ke ruang unit darurat. Tangannya  gemetar ketika membaca
kartu pasien, “Father Ale Ignacio”, matanya yang  tertutup rapat , tangan
mencengkeram pinggiran kursi untuk menahan rasa  sakit. Rambut putihnya tidak
menyembunyikan kharisma wibawa seorang Ale.  Walaupun sekian lama waktu sudah
memisahkan.“ Benar , dia Ale –ku,  Ale-ku yang selalu mengisi hidupku dari waktu ke waktu”, jerit hati  Nina. Tak kuasa Nina menahan gejolak emosi yang begitu
menderanya,  tubuhnya limbung dan kesadarannya lenyap seketika.

Ketika  tersadar , setengah berlari dia pergi ke ruang unit  darurat, dilihatnya para jururawat menatapnya dengan iba ,lalu menyerahkan  sebuah gelang perak
polos berukirkan nama Nina-Ale di atas sebuah buku catatan lusuh. Airmata 
mengalir deras tak terbendung lagi. Terisak-isak dia menggenggam kedua barang
itu. Terhuyung-huyung dia melangkah ke kamarnya. Dia sadar tak ada
yang  bisa diperbuatnya.  Ale telah tiada. Ale telah pergi ,  mendahuluinya,
menghadap Tuhan junjungannya. Tak guna dia bersedih, Ale  tentu sudah bahagia di sana.

Dari  otopsi team dokter akhirnya menjelaskan semuanya. Dia menderita  kanker
lambung di stadium keempat, hanya tinggal menunggu waktu, dan  dia bertahan
sekian lama untuk tidak berobat, karena dia tidak tega  meninggalkan jemaat
miskin di tempat terpencil di pulau Luzon , yang  selalu mengharapkan
kehadirannya waktu demi waktu , dalam pelayanan di sebuah  gereja di kampung
ibunya.

Dia  seorang martir sejati, dia seorang Ale, dia manusia yang penuh pengabdian,  bagai lilin rela meleleh demi penerangan , rela menderita  demi manusia lainnya.


Ternyata dia berada begitu dekat dengan Nina  tanpa sepengetahuan Nina . Ale
tidak ingin mengganggu Nina dengan  emosinya sendiri yang dirasa mengusik
nuraninya. Ya… dia juga cinta  Nina, tapi dia sudah memutuskan untk mencintai
Nina sama seperti  mencintai jemaat lainnya. Tapi hatinya tidak bisa
membohonginya. Saat  rindu menderanya, dia hanya menulis di buku catatan itu 
......

“NINA, ANG MAHAL KO’Y IKAW PA RIN”  -
“You ‘re still the one I love”……………beribu2 kali.
"Mahal Kita " -
" I love you"......................tak terhingga...........




Denpasar, 8 Februari 2011

20 Agustus 2010

Love Me or Leave Me

“Love Me or Leave Me” suara jazz Nina Simone diiringi dawai-dawai bas biola berharmoni bersama senar piano ,mendayu-dayu di telinga, tak hendak pupus…"Yes…love me or leave me, this is what I beg you , my dearest…."



“Maafkan aku sayang, maafkan aku untuk semua yang sudah terjadi, dia sudah tahu semuanya karena itu dia datang dan menamparmu. Maafkan dia, maafkan aku.” Demikian isi SMS terakhir yang diterimanya dari lelaki itu. Tania terdiam, hatinya terkoyak, susunan cinta yang dibangunnya hampir sampai ke ujung langit, tiba-tiba jatuh berantakan . Hancur luluh. Tak berwujud.



“Hahahahaha ,” dalam hati Tania tertawa pahit, menertawakan kebodohan dirinya, lalu bergantian dengan tangisan silih berganti, dan seringai yang terlihat itu pastilah seringai kepedihan. “Sekian lama kau khianatin aku , kau isap sari seluruh harta , jiwa dan ragaku sampai kering susut dan tunggu kau rasakan balasannya, “ada dendam membara tersembunyi rapi di wajahnya.

12 Agustus 2010

Ketika Membalikkan Telapak Tangan

Terhenyak.Gugup dipegangnya gagang pintu itu. Tiba-tiba dia menjadi sangat lelah , pasukan 10 L seolah serentak menyerangnya dari segala penjuru, ada si Lelah, ada si Lemas, si Letih , si Lunglai dan pasukan L lainnya……..


Tak ada pasukan pengaman, dirasanya dirinya mendadak gontai, kakinya lemas,setengah melayang tak menginjak bumi. Tak percaya dipandangnya kenyataan di depan mata. Tak sadar diusapnya tangannya sendiri. Masih tak percaya, perlahan disembunyikan tangan kirinya ke belakang, tangan kanan segera menyatu ke belakang membantu mencubitnya. Nyata. Tidak mimpi.

Kesadaran memulihkan dirinya untuk bersiap membela diri , akankah penyerangan itu tiba?

Bahasa Cinta



http://chottomatte.net/blog/2009/11/15/minoo-waterfall-1/


Momiji hijau itu telah berubah warna, musim gugur. Kouyou di Mino, perubahan warna daun momiji itu begitu menyentuh relung-relung kalbu, tak terkatakan dengan kata-kata , tak habis melukiskan keindahan itu dalam satu olesan gambar, warna warni alami, hijau ke kuning, kuning ke oranye, oranye ke merah, dari merah ke merah membara, achhh….. sungguh tak habis dalam kiasan kata. Nuansa alam yang hanya bisa dinikmati di negeri sakura ini. Hm…
Perempuan itu menghirup nafas dalam-dalam dan melepasnya perlahan, menatap keindahan koyo di depannya dengan raut wajah penuh syukur. Aku duduk di sampingnya , menatap kouyou di depanku sambil sesekali menoleh kepadanya dan tersenyum.

Sachiko ,biasanya kupanggil Sa-chan adalah salah seorang mantan murid bahasa Indonesia, di sekolah tempatku mengajar di Osaka. Dia adalah salah seorang muridku yang sangat berbakat, santun tutur katanya,ramah dan cantik. Aku sangat menyayanginya. Kepribadiannya tak ada cela di mataku.Matanya sipit melengkung agak naik, namun sorot mata lembut itu sungguh menarik. Badannya yang kutilang, kurus tinggi dan langsing, seolah melambai ringan bila berjalan, mungkin berkat latihan balet yang terus menerus sedari kecil hingga tubuhnya begitu lentur dan indah.

9 Agustus 2010

Suatu Pojok di Negeri Ginseng

“Anyong haseyo…”
“Kamsa Hamnida, “suara ramah pramugari berparas ayu, mata sipitnya sungguh menawan ,menyapa ramah di pintu pesawat. Kuanggukkan kepalaku turut mengucapkan terimakasih.Hm….kuhirup perlahan udara segar di pintu keluar pelabuhan udara Incheon Seoul. Bau bawang putih yang terus menerus mengganggu penciuman selama penerbangan lenyap terbawa angin. Akhirnya kujejakkan kembali kakiku di negeri kimchi ini. Setelah 10 tahun menjelang. Negerinya Song Seung Heun, Choi Ji Woo aktor dan aktris Korea kesayanganku. Negeri produksi melodrama seri yang belakangan ini begitu terkenal, East of Eden. Instrumental lagu kebanggaan rakyat Korsel “Arirang”pun mengalun lembut ditelingaku. Betapa aku dulu jatuh cinta pada negeri ini. Juga pada wanitanya.Kenangan demi kenangan menyeruak.